Blog Kesehatan Digital

athenaPatient MCP Bawa Rekam Medis Pasien ke Claude

Ditulis oleh Alfina Putri

8 menit baca

athenaPatient MCP Bawa Rekam Medis Pasien ke Claude
Daftar isi· 7 bagian
  1. 1Cara kerja athenaPatient MCP
  2. 2Perdebatan soal HIPAA dan tanggung jawab
  3. 3Konteks di Indonesia: SATUSEHAT Mobile dan UU PDP
  4. 4Apa artinya bagi rumah sakit dan klinik?
  5. 5Pertanyaan yang sering muncul
  6. 6Penutup
  7. 7Sumber

athenahealth, penyedia perangkat lunak rekam medis elektronik di Amerika Serikat, meluncurkan athenaPatient MCP pada 2 November 2026. Layanan ini memungkinkan pasien menghubungkan rekam medis resmi mereka ke Claude, asisten AI buatan Anthropic, lalu menanyakan isinya dengan bahasa sehari-hari. Pada tahap awal, layanan ini hanya tersedia bagi pelanggan Claude Pro dan Max di AS.

Peluncuran ini menarik perhatian karena menyentuh dua hal sekaligus: kemudahan pasien memahami data kesehatannya sendiri dan pertanyaan tentang siapa yang melindungi data itu setelah keluar dari sistem rumah sakit. Tulisan ini menjelaskan cara kerjanya, perdebatan yang muncul di AS, dan pelajarannya bagi fasilitas kesehatan di Indonesia.

Cara kerja athenaPatient MCP

athenahealth dikenal sebagai penyedia sistem rekam medis elektronik dan manajemen praktik untuk layanan rawat jalan. Menurut siaran pers athenahealth yang dirilis lewat Business Wire, pasien menyalakan konektor athenaPatient MCP di pengaturan Claude, lalu masuk memakai akun portal pasien athenahealth. Setelah itu, pasien memilih informasi apa saja yang boleh dibaca dan dapat langsung bertanya, misalnya tentang arti hasil laboratorium terbaru.

Nama MCP berasal dari Model Context Protocol, standar terbuka yang menghubungkan model AI dengan sumber data dan alat di luar dirinya. Menurut HIT Consultant, server athenaPatient MCP bertindak sebagai lapisan perantara yang merapikan data rekam medis sebelum dibaca model. Data juga diambil hanya ketika pasien mengajukan pertanyaan yang membutuhkan riwayat kesehatannya, sehingga rekam medis tidak dimuat lebih dulu ke dalam percakapan.

Empat langkah menghubungkan rekam medis ke Claude lewat athenaPatient MCP: aktifkan konektor, masuk dengan akun athenahealth, pilih kategori data, lalu bertanya atau mencabut akses

Proses masuk dilakukan langsung dengan akun athenahealth milik pasien, dan pasien dapat mencabut akses kapan saja. Akses Claude juga terbatas pada rekam medis pasien itu sendiri.

Data yang dapat dipilih pasien

Siaran pers athenahealth menyebut sepuluh kategori data yang dapat dibagikan: hasil laboratorium, tanda vital, obat, kondisi kesehatan, imunisasi, riwayat kunjungan, laporan diagnostik, alergi, tindakan medis, dan rencana perawatan. Pasien dapat meninjau dan mengubah izin untuk setiap kategori, termasuk catatan yang tergolong sensitif.

Soal privasi, athenahealth menyatakan data dienkripsi selama dikirim dan hanya disimpan di sistem Anthropic selama sesi percakapan berlangsung. Rekam medis aslinya tetap berada di sistem athenahealth. HIT Consultant juga melaporkan bahwa Anthropic berkomitmen tidak memakai data tersebut untuk melatih model. Klaim ini berasal dari kedua perusahaan dan belum diuji pihak independen.

Siaran pers yang sama mengutip survei Pew Research Center pada Agustus 2026 yang menemukan 34 persen orang dewasa di AS pernah memakai asisten AI untuk keperluan kesehatan. Siaran pers itu tidak menyebut berapa banyak pasien yang dapat atau sudah memakai konektor ini.

Paul Brient, chief product and operations officer athenahealth, menyebut peluncuran ini sebagai langkah penting dalam membawa AI ke pengalaman pasien secara bertanggung jawab. Dari pihak Anthropic, Syed Mohiuddin, kepala bidang kesehatan, menyatakan pasien sering memiliki pertanyaan tentang rekam medis mereka di sela jadwal kunjungan ke dokter.

Perdebatan soal HIPAA dan tanggung jawab

Di AS, data kesehatan dilindungi HIPAA, undang-undang yang mengikat penyedia layanan kesehatan, perusahaan asuransi, dan mitra bisnis yang mengolah data atas nama mereka. Pertanyaannya, apakah perlindungan itu ikut berpindah ketika pasien sendiri yang mengirim datanya ke asisten AI.

Sam Lambson, pimpinan bidang data dan ekosistem di athenahealth, menjawab tegas kepada GovInfoSecurity: “This is patient-directed, and the AI assistant is not a covered entity or business associate.” Artinya, karena pengiriman data diarahkan oleh pasien, Claude tidak berstatus pihak yang diatur HIPAA. Lambson menambahkan bahwa hal itu tidak berarti datanya tanpa perlindungan.

Para ahli hukum yang diwawancarai media yang sama memberi catatan. Jordan Cohen, pengacara regulasi di Akerman LLP, menyamakan konektor ini dengan kurir digital dan menilai HIPAA kemungkinan tidak berlaku bila sistem kesehatan hanya menjalankan permintaan pasien. Ia menyarankan pasien menanyakan berapa lama data disimpan, apakah data dipakai untuk melatih model, siapa yang dapat mengaksesnya, dan cara mencabut serta menghapusnya.

Rachel Rose, pengacara regulasi lain, menyebut HIPAA dapat berlaku bila athenahealth mengontrak penyedia AI secara langsung untuk mengolah data atas nama organisasi kesehatan. Ia juga mengingatkan aturan lain di luar HIPAA, seperti FTC Act dan aturan pemberitahuan kebocoran data kesehatan dari FTC. Menurutnya, catatan psikoterapi dan catatan perawatan penyalahgunaan zat sebaiknya tidak dimasukkan ke sistem semacam ini.

Tabel perbandingan perlindungan data kesehatan di portal athenahealth dan di Claude setelah dibagikan pasien: aturan yang berlaku, tempat penyimpanan, dan kendali pasien

Maggie Hales, pengacara sekaligus CEO ET&C Group, menyoroti risiko lain. Pasien mungkin belum memahami risiko membagikan datanya, termasuk kemungkinan dirugikan oleh kesalahan jawaban AI. Ia juga menilai perkembangan AI lebih cepat daripada kerangka kebijakan yang mengaturnya, sehingga tanggung jawab atas kesalahan tafsir AI masih belum jelas.

Langkah serupa juga diambil perusahaan lain. TechTarget mencatat OpenAI sudah memiliki ChatGPT Health dan Anthropic memiliki Claude for Healthcare untuk pengguna umum. Epic, penyedia rekam medis elektronik lain, juga bermitra dengan OpenAI untuk membawa ChatGPT ke sistem yang dipakai tenaga kesehatan.

Konteks di Indonesia: SATUSEHAT Mobile dan UU PDP

athenaPatient MCP hanya tersedia di AS, tetapi pertanyaannya relevan di Indonesia. Pasien di sini sudah dapat melihat sebagian rekam medisnya sendiri. Menurut Kementerian Kesehatan, fitur Resume Medis di SATUSEHAT Mobile hadir sejak November 2023 dan menampilkan riwayat kunjungan, diagnosis, serta hasil laboratorium. Fitur ini hanya terbuka bagi pengguna yang profilnya sudah diverifikasi di fasilitas kesehatan dan dilindungi PIN enam digit.

Kemenkes juga berencana menambahkan asisten kesehatan pribadi berbasis AI di SATUSEHAT Mobile mulai 2026. Menurut GovInsider, rencana itu disampaikan Setiaji, Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan, pada Desember 2025. Fitur yang disebut berupa notifikasi, pengingat, dan rekomendasi hidup sehat. Jadwal peluncurannya secara pasti belum diumumkan.

Dari sisi hukum, Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi menggolongkan data dan informasi kesehatan sebagai data pribadi yang bersifat spesifik (Pasal 4 ayat 2). Pemrosesan dapat berdasar persetujuan yang sah secara eksplisit untuk tujuan tertentu (Pasal 20 ayat 2), dan pemilik data berhak menarik kembali persetujuannya (Pasal 9). Tiga prinsip ini sejalan dengan fitur yang ditawarkan athenaPatient MCP: izin per kategori, tujuan yang jelas, dan akses yang dapat dicabut.

Fasilitas yang rekam medisnya sudah tersambung ke SATUSEHAT memiliki modal awal untuk layanan serupa. Pembahasan kesiapan rumah sakit untuk rekam medis elektronik nasional ada di artikel tentang SATUSEHAT RME dan klaim JKN.

Apa artinya bagi rumah sakit dan klinik?

Cepat atau lambat, pasien akan meminta akses yang lebih mudah ke datanya, termasuk lewat aplikasi atau asisten AI pilihan mereka. Rumah sakit, klinik, dan pengembang aplikasi kesehatan dapat bersiap dengan beberapa langkah berikut.

  1. Buka akses data per kategori. Pasien sebaiknya dapat memilih kategori data yang dibagikan, misalnya hasil laboratorium saja tanpa riwayat diagnosis. Rancangan ini memudahkan pemenuhan prinsip persetujuan untuk tujuan tertentu dalam UU PDP.
  2. Sediakan tombol cabut akses yang mudah ditemukan. Hak menarik persetujuan baru bermakna bila pasien dapat melakukannya sendiri tanpa harus menghubungi petugas.
  3. Catat setiap akses oleh aplikasi pihak ketiga. Log yang berisi aplikasi, waktu, dan kategori data membantu menjawab pertanyaan pasien dan memudahkan audit.
  4. Beri perlakuan khusus untuk data sensitif. Catatan kesehatan jiwa, kesehatan reproduksi, dan data genetika perlu persetujuan terpisah, sejalan dengan peringatan para ahli hukum di AS.
  5. Jelaskan batas tanggung jawab dengan bahasa sederhana. Pasien perlu tahu bahwa setelah data keluar dari sistem fasilitas, perlindungannya bergantung pada kebijakan penerima.

Daftar lakukan dan hindari sebelum membuka rekam medis pasien ke aplikasi AI: izin per kategori, tombol cabut akses, log akses, dan hindari membagikan catatan psikoterapi

Tenaga kesehatan juga perlu bersiap menerima pasien yang datang membawa tafsiran AI atas hasil pemeriksaannya. Prosedur sederhana untuk meluruskan tafsiran yang keliru akan membantu dokter dan perawat.

Merancang akses data pasien yang aman membutuhkan kerja sama tim klinis, hukum, dan teknologi. Tim solusi kesehatan digital Merakit dapat membantu menyusun alur izin dan pencatatan akses, sementara layanan kecerdasan buatan kami membantu menguji asisten AI sebelum dipakai pasien.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah athenaPatient MCP dapat dipakai di Indonesia?

Belum. Saat diluncurkan, layanan ini hanya tersedia bagi pelanggan Claude Pro dan Max di Amerika Serikat yang memiliki akun portal pasien athenahealth. Rencana perluasan ke negara lain belum diumumkan.

Apakah data kesehatan yang dibagikan dipakai untuk melatih AI?

athenahealth menyatakan data hanya disimpan di sistem Anthropic selama sesi percakapan, dan HIT Consultant melaporkan komitmen Anthropic untuk tidak memakainya dalam pelatihan model. Para ahli hukum tetap menyarankan pasien membaca kebijakan penyimpanan dan penghapusan data sebelum menghubungkan akunnya.

Apa itu Model Context Protocol?

Model Context Protocol (MCP) adalah standar terbuka yang memungkinkan asisten AI mengambil data dan memakai alat dari sistem lain lewat koneksi yang diatur. Dalam kasus ini, MCP menjadi jalur bagi Claude untuk membaca rekam medis pasien yang telah diizinkan.

Penutup

athenaPatient MCP menunjukkan arah layanan kesehatan digital: pasien ingin memahami datanya sendiri dengan bantuan AI. Manfaatnya nyata, tetapi perlindungan data dan tanggung jawab atas jawaban AI perlu dirancang sejak awal. Bila fasilitas Anda sedang menyiapkan akses rekam medis bagi pasien, kami siap membantu merancangnya dengan aman.

Sumber

Ringkasan dalam satu gambar

Simpan atau bagikan ke tim Anda.

Unduh
Infografis ringkasan: athenaPatient MCP Bawa Rekam Medis Pasien ke Claude

Topik

  • Kesehatan Digital
  • Kecerdasan Buatan
  • Rekam Medis
  • Privasi Data Pasien
  • Asisten AI

Bagikan artikel ini

Diskusi dengan Tim Merakit

Punya tantangan serupa di organisasi Anda?

Ceritakan kebutuhan Anda. Tim kami bantu memetakan langkah dan solusi yang paling masuk akal, tanpa jargon.