Blog Kesehatan Digital

Stetoskop AI Eko CORE 300 dan Artinya bagi Layanan Primer

Ditulis oleh Merakit Indonesia

7 menit baca

Stetoskop AI Eko CORE 300 dan Artinya bagi Layanan Primer
Daftar isi· 7 bagian
  1. 1Dua mode dengar dalam satu kepala stetoskop
  2. 2Cara kerja deteksi bising jantung
  3. 3Harga, langganan, dan ketersediaan
  4. 4Apa artinya bagi puskesmas dan klinik?
  5. 5Pertanyaan yang sering muncul
  6. 6Penutup
  7. 7Sumber

Eko Health mulai menjual stetoskop AI Eko CORE 300 di Amerika Serikat pada 22 Oktober 2026. Perangkat seharga US$199 ini menggabungkan mode dengar analog dan digital dalam satu kepala stetoskop, dan dapat menandai bising jantung lewat AI berizin FDA bila tersambung ke aplikasi Eko.

Dua mode dengar dalam satu kepala stetoskop

Stetoskop adalah alat yang dipakai hampir di setiap pemeriksaan fisik, dari ruang praktik dokter umum sampai bangsal rumah sakit. Versi digital sudah ada sejak beberapa tahun lalu, tetapi umumnya bergantung pada baterai. Dalam siaran pers peluncurannya, Eko Health menyebut CORE 300 sebagai stetoskop pertama yang memadukan mode dengar tradisional dan digital langsung dalam satu kepala stetoskop.

Perpindahan mode dilakukan dengan memutar kepala stetoskop. Pada mode analog, alat ini bekerja seperti stetoskop biasa tanpa listrik. HIT Consultant mencatat bahwa mode ini tetap dapat dipakai ketika baterai benar-benar habis. Pada mode digital, suara diperkuat hingga 35 kali dengan peredam bising aktif, dan pengguna dapat memilih tiga penyaring suara: jantung (Cardiac), paru (Pulmonary), atau serbaguna (All Purpose).

Kepala stetoskop memiliki layar monokrom yang tahan pecah untuk menampilkan denyut jantung secara langsung. Menurut halaman produk Eko, alat ini berbobot 150 gram, panjangnya 69 sentimeter, dan memiliki sertifikasi ketahanan air IP22. Dua ukuran diafragma tersedia, 45 milimeter untuk dewasa dan 36 milimeter untuk anak. Pengisian daya memakai USB-C, dengan daya tahan hingga 120 jam pemakaian klinis.

Fitur rekam juga menjadi bagian penting. Suara jantung, paru, dan bagian tubuh lain dapat direkam, divisualisasikan, dan disimpan, lalu dibagikan lewat koneksi Bluetooth Low Energy. Bagi dokter, rekaman ini memungkinkan suara yang sama didengar ulang atau dikirim ke rekan sejawat untuk pendapat kedua.

Cara kerja deteksi bising jantung

Bising jantung (murmur) adalah suara tambahan di luar bunyi detak jantung normal. Sebagian bising tidak berbahaya, tetapi sebagian lain dapat menandakan kelainan struktur jantung, misalnya gangguan pada katup. Mendeteksinya lewat pendengaran saja membutuhkan telinga terlatih dan ruangan yang cukup tenang, dua hal yang tidak selalu tersedia di fasilitas kesehatan yang ramai.

Pada CORE 300, analisis dilakukan oleh algoritma AI terpisah yang sudah mendapat izin FDA untuk mendeteksi bising jantung struktural. Algoritma ini berjalan di aplikasi Eko pada ponsel, bukan di dalam stetoskop. Stetoskop merekam suara jantung dan mengirimkannya ke aplikasi, lalu model AI menilai apakah rekaman memuat pola bising yang perlu diperhatikan. Hasilnya tampil di aplikasi dan di layar stetoskop.

Eko menegaskan batas pemakaian alat ini. Di halaman produknya, perusahaan menulis bahwa Eko AI ditujukan hanya untuk tenaga kesehatan berlisensi dan temuannya tidak berarti diagnosis. Keputusan klinis tetap ada di tangan dokter, yang biasanya akan meminta pemeriksaan lanjutan seperti ekokardiografi bila ada kecurigaan.

Alur pemeriksaan dengan stetoskop AI Eko CORE 300: dengarkan dalam mode analog atau digital, rekam suara jantung, aplikasi Eko menganalisis bising jantung, lalu dokter memutuskan pemeriksaan lanjutan

Kepala petugas medis Eko, Steven Steinhubl, menjelaskan tujuan fitur tersebut kepada HLTH: “The goal is to help clinicians recognize signs of heart disease earlier, during an exam patients already receive.” Dengan kata lain, pemeriksaan tambahan ini tidak memerlukan kunjungan atau alat baru bagi pasien.

Ada beberapa hal yang tidak dapat dilakukan CORE 300. Deteksi fibrilasi atrium (gangguan irama jantung) tidak tersedia di model ini; halaman produk Eko menyebut fitur tersebut membutuhkan CORE 500, model Eko yang lebih tinggi. Akurasi algoritma bising jantung juga tidak dijabarkan di materi peluncuran, dan sejauh ini belum ada uji independen terhadap CORE 300 yang dipublikasikan.

Harga, langganan, dan ketersediaan

Izin FDA 510(k) untuk CORE 300 terbit pada 23 Juli 2026 menurut HLTH, dan penjualan di Amerika Serikat dimulai 22 Oktober 2026. Izin ini mencakup pasien dewasa dan anak. Siaran pers Eko hanya menyebut harganya setara stetoskop tradisional kelas premium, sedangkan HIT Consultant dan halaman produk Eko mencantumkan harga US$199.

Fitur AI tidak termasuk dalam harga perangkat. Pembeli mendapat uji coba gratis 14 hari untuk paket Eko+, lalu langganan diperpanjang otomatis dengan biaya US$119,99 per tahun. Tanpa Eko+, pengguna tetap dapat memakai paket gratis untuk visualisasi suara secara langsung, mendengar tanpa kabel, serta merekam dan memutar ulang.

Tabel perbandingan paket gratis dan Eko+ pada stetoskop AI Eko CORE 300: deteksi bising jantung, simpan dan bagikan rekaman, laporan PDF, dan dasbor web hanya ada di Eko+ seharga US$119,99 per tahun

Untuk pasar di luar Amerika Serikat, Eko berencana meluncurkan CORE 300 di Kanada, Inggris, dan sejumlah negara Eropa. HIT Consultant melaporkan bahwa pengajuan izin di Asia-Pasifik dan Amerika Latin sedang berjalan, tanpa menyebut negara tertentu. Ketersediaan resmi di Indonesia belum diumumkan, dan halaman produk Eko menyebut fitur Eko AI hanya hadir di negara yang sudah memberikan izin regulasi.

Eko bukan pemain baru. Perusahaan yang berkantor pusat di Emeryville, California, ini menyatakan sudah menyalurkan lebih dari 750.000 perangkat di seluruh dunia, mencakup stetoskop digital, perangkat EKG, perangkat lunak, dan analisis berbasis AI.

Apa artinya bagi puskesmas dan klinik?

Penyakit jantung adalah beban besar di Indonesia. Dalam rilis Kementerian Kesehatan pada September 2022, Kemenkes menyebut penyakit jantung sebagai penyebab utama kematian berdasarkan data Global Burden of Disease dan IHME 2014–2019. Rilis yang sama mencatat prevalensi penyakit jantung naik dari 0,5 persen pada 2013 menjadi 1,5 persen pada 2018 menurut Riskesdas, dan pembiayaan BPJS Kesehatan untuk penyakit jantung pada 2021 mencapai Rp7,7 triliun, terbesar di antara penyakit lain.

Fakta penyakit jantung di Indonesia menurut Kemenkes: pembiayaan BPJS Kesehatan Rp7,7 triliun pada 2021 dan prevalensi naik dari 0,5 persen pada 2013 menjadi 1,5 persen pada 2018

Kemenkes menjawab beban itu dengan memperkuat layanan primer, termasuk skrining 14 penyebab kematian terbanyak. Peran stetoskop pintar layak dicermati dari sisi ini. Pemeriksaan dengan stetoskop sudah terjadi di setiap kunjungan puskesmas, sehingga alat yang membantu menandai bising jantung dapat menambah lapisan skrining tanpa mengubah alur pelayanan. Namun, sebelum alat seperti CORE 300 dipakai, ada beberapa pertimbangan konkret:

  1. Izin edar. Alat kesehatan impor yang beredar di Indonesia wajib memiliki izin edar dari Kementerian Kesehatan dengan dasar Permenkes Nomor 62 Tahun 2017. Selama izin itu belum ada, alat ini belum dapat dibeli dan dipakai secara resmi di fasilitas kesehatan.
  2. Biaya per tahun. Hitung total biaya, yaitu harga perangkat ditambah langganan tahunan per alat, lalu bandingkan dengan jumlah pasien yang diperiksa dan biaya rujukan yang dapat dihemat.
  3. Koneksi dan ponsel. Analisis AI berjalan di aplikasi, yang menurut Eko membutuhkan iOS 18 atau Android 13 ke atas. Puskesmas perlu memastikan perangkat dan koneksi internet memadai, terutama di daerah terpencil.
  4. Data pasien. Rekaman suara jantung adalah data kesehatan. Pastikan penyimpanan dan pembagiannya mengikuti Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi, dan rencanakan bagaimana hasilnya dicatat di rekam medis elektronik.
  5. Alur rujukan. Tetapkan apa yang dilakukan bila AI menandai bising, misalnya siapa yang memeriksa ulang dan ke mana pasien dirujuk untuk ekokardiografi.

Pertimbangan terakhir sering terlewat. Alat skrining hanya berguna bila hasilnya ditindaklanjuti. Rumah sakit dan klinik yang sudah menghubungkan rekam medis elektronik ke SATUSEHAT, seperti kami bahas dalam artikel kesiapan rumah sakit, punya jalur yang lebih jelas untuk mencatat temuan dari perangkat seperti ini.

Integrasi perangkat ke sistem pelayanan menjadi pekerjaan utamanya. Merakit membantu fasilitas kesehatan menyusun solusi kesehatan digital, mulai dari rekam medis sampai antrean pasien, serta menghubungkan perangkat medis dan sensor ke sistem lewat layanan IoT.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah stetoskop AI Eko CORE 300 bisa mendiagnosis penyakit jantung?

Tidak. Eko menyatakan bahwa Eko AI ditujukan untuk tenaga kesehatan berlisensi dan temuannya tidak berarti diagnosis. Fitur ini menandai kemungkinan bising jantung struktural, lalu dokter yang memutuskan perlu tidaknya pemeriksaan lanjutan.

Apakah fitur AI-nya dapat dipakai tanpa langganan?

Tidak. Deteksi bising jantung termasuk dalam paket Eko+ seharga US$119,99 per tahun setelah uji coba gratis 14 hari. Tanpa langganan, stetoskop tetap dapat dipakai dalam mode analog dan digital, termasuk merekam dan memutar ulang suara.

Apakah Eko CORE 300 dijual di Indonesia?

Belum diumumkan. Eko baru menjual CORE 300 di Amerika Serikat dan merencanakan peluncuran di Kanada, Inggris, dan sebagian Eropa. Pengajuan izin di Asia-Pasifik disebut sedang berjalan, tetapi Indonesia tidak disebut secara khusus.

Penutup

Eko CORE 300 menunjukkan arah perangkat medis sehari-hari: alat yang akrab bagi dokter kini dapat merekam data dan memberi tanda awal lewat AI, dengan harga yang mendekati stetoskop premium biasa. Bagi fasilitas kesehatan di Indonesia, persiapan yang paling bernilai ada pada sistem di belakangnya, yaitu pencatatan hasil, perlindungan data, dan alur rujukan. Bila Anda sedang merencanakan langkah itu, tim Merakit Indonesia siap berdiskusi.

Sumber

Ringkasan dalam satu gambar

Simpan atau bagikan ke tim Anda.

Unduh
Infografis ringkasan: Stetoskop AI Eko CORE 300 dan Artinya bagi Layanan Primer

Topik

  • Kesehatan Digital
  • Perangkat Medis
  • Stetoskop AI
  • Layanan Primer
  • Internet of Things

Bagikan artikel ini

Diskusi dengan Tim Merakit

Punya tantangan serupa di organisasi Anda?

Ceritakan kebutuhan Anda. Tim kami bantu memetakan langkah dan solusi yang paling masuk akal, tanpa jargon.