Blog Internet of Things

AIoT di Tambak Kerapu Lamongan, Pakan Hemat hingga 20%

Ditulis oleh Alfina Putri

7 menit baca

AIoT di Tambak Kerapu Lamongan, Pakan Hemat hingga 20%
Daftar isi· 7 bagian
  1. 1Uji coba AIoT di Kampung Kerapu
  2. 2Cara kerja sensor dan aerator pintar
  3. 3Membaca angka awal dengan hati-hati
  4. 4Apa artinya bagi pelaku usaha budi daya?
  5. 5Pertanyaan yang sering muncul
  6. 6Penutup
  7. 7Sumber

Sensor AIoT yang dipasang di tambak kerapu Lamongan, Jawa Timur, mencatat hasil awal yang menjanjikan. Menurut Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), uji coba selama lima bulan menghemat pakan hingga 20%, menaikkan tingkat kelangsungan hidup ikan 16%, dan meningkatkan pendapatan pembudidaya lebih dari 24%.

Angka tersebut disampaikan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid saat panen raya di Kampung Kerapu, Desa Labuhan, Kecamatan Brondong, pada Selasa, 3 November 2026. Kisah ini menarik karena teknologinya dipasang di kolam air payau yang dikelola kelompok pembudidaya, jauh dari lingkungan pabrik atau gedung perkantoran. Tantangan seperti sinyal, perawatan alat, dan cara mengukur hasil muncul dengan sangat nyata di lingkungan seperti ini.

Uji coba AIoT di Kampung Kerapu

AIoT adalah singkatan dari artificial intelligence of things, yaitu gabungan sensor yang terhubung ke internet (IoT) dengan kecerdasan buatan untuk mengolah datanya. Di Lamongan, sensor dipakai untuk memantau kualitas air tambak, lalu hasilnya dapat dilihat dan sebagian peralatannya dikendalikan dari jarak jauh, termasuk dari rumah.

Program ini merupakan kerja sama Komdigi, Pemerintah Kabupaten Lamongan, dan PT Venambak Kail Dipantara, perusahaan teknologi budi daya perikanan. Menurut Katadata, pemerintah menyediakan 150 unit aerator jet otomatis bernama Smart Venjet bagi pembudidaya kerapu. ANTARA mencatat penyaluran 150 unit aerator Venjet itu dilakukan Komdigi bersama perusahaan tersebut pada 22 Juli 2026.

Meutya menyebut teknologi ini sebagai karya insinyur lokal yang dikembangkan bersama Habibie Garden. Komdigi juga berjanji mendukung penerapannya dengan ketersediaan jaringan internet yang memadai. Dalam acara yang sama, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah menjadi pembicara dalam acara bertajuk “Teknologi Digital AIoT Tepat untuk Petani dan Pembudidaya”, seperti dicatat InfoPublik.

Skala lokasinya cukup besar. ANTARA dan Katadata menyebut Kampung Kerapu memiliki tambak lebih dari 300 hektare yang dikelola enam kelompok pembudidaya. Data Dinas Perikanan Lamongan yang dikutip ANTARA mencatat produksi kerapu pada 2025 mencapai 1.830,62 ton dengan nilai lebih dari Rp174 miliar. Hingga September 2026, produksinya tercatat 1.481,5 ton, termasuk untuk ekspor.

Grafik batang hasil uji coba AIoT lima bulan di tambak kerapu Lamongan: pakan hemat hingga 20%, kelangsungan hidup naik 16%, pendapatan naik lebih dari 24%

Cara kerja sensor dan aerator pintar

Sensor di tambak Lamongan memantau tiga indikator utama kualitas air, yaitu oksigen terlarut, pH, dan salinitas. Ketiganya menentukan kesehatan ikan budi daya. Oksigen terlarut adalah kadar oksigen yang tersedia di dalam air untuk bernapas. pH menunjukkan tingkat keasaman air. Salinitas adalah kadar garam, yang penting di tambak air payau karena dapat berubah mengikuti hujan dan pasang surut.

Tanpa sensor, pembudidaya harus datang ke kolam untuk memeriksa kondisi air dan menyalakan kincir. Katadata menceritakan pengalaman Soekarno, pembudidaya di Desa Labuhan yang mengelola 38 kolam di lahan sekitar 10 hektare. Sebanyak 20 kolam miliknya kini dipasangi Smart Venjet, sehingga sebagian pemantauan dan pengoperasian dapat dilakukan dari aplikasi tanpa harus berada di lokasi.

Smart Venjet tidak menggantikan kincir yang sudah ada. Menurut Katadata, kincir bertugas menggerakkan air untuk sirkulasi sekaligus menambah oksigen, sedangkan Venjet berfungsi memasukkan oksigen ke dalam air. Setiap unit dilengkapi sistem kendali dan pemantauan yang tersambung ke aplikasi. Laporan Katadata juga menyebut kecerdasan buatan akan diintegrasikan dengan IoT untuk memantau lebih banyak indikator, tetapi belum merinci peran AI dalam sistem yang berjalan saat ini.

Tabel perbandingan pengelolaan tambak kerapu cara lama dan dengan IoT: pemeriksaan air, pengoperasian aerasi, indikator yang dipantau, dan data harian

Pola ini lazim dalam layanan Internet of Things di sektor lain. Sensor mengumpulkan data dari lapangan, perangkat penghubung mengirimkannya ke aplikasi, dan pengguna mengambil keputusan dari layar ponsel. Bedanya, tambak adalah lingkungan yang berat bagi perangkat elektronik karena air, garam, panas, dan lokasi yang jauh dari kota.

Membaca angka awal dengan hati-hati

Hasil uji coba di Lamongan patut diapresiasi, tetapi angkanya perlu dibaca sesuai konteks. Periode pemantauan baru sekitar lima bulan, sementara kerapu membutuhkan waktu sekitar satu tahun hingga panen. Katadata mencatat bantuan teknologi itu baru dipakai sekitar enam bulan, dan Soekarno mengaku ikannya lebih sehat tetapi belum dapat memastikan kenaikan produktivitas maupun efisiensi biaya secara keseluruhan.

Ada pula perbedaan istilah antarsumber. ANTARA dan Telset menulis angka lebih dari 24% sebagai kenaikan pendapatan pembudidaya, sedangkan Katadata menuliskannya sebagai kenaikan produktivitas. Sumber-sumber tersebut juga belum menjelaskan data pembanding dan cara pengukuran di balik angka 20%, 16%, dan 24%.

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menyampaikan bahwa sistem IoT membuat ikan lebih sehat, tingkat kematian menurun, dan operasional lebih efisien. Menurut Katadata, ia juga menyebut ukuran dan kualitas kerapu membaik selama lima bulan terakhir. Penilaian ini wajar sebagai laporan awal, dan hasil satu siklus panen penuh akan memberi gambaran yang lebih kuat.

Perpanjangan pendampingan dilaporkan dengan nada berbeda. ANTARA menulis Meutya menyetujui masa pendampingan program digitalisasi Kampung Kerapu diperpanjang dari delapan bulan menjadi satu tahun. Katadata menyebut pemerintah masih mempertimbangkan tambahan empat bulan sehingga totalnya menjadi satu tahun. Kedua laporan sepakat bahwa waktu tambahan dibutuhkan agar pembudidaya dapat memanfaatkan teknologi dengan lebih efektif.

Konektivitas dan perawatan menjadi syarat

Menurut iNews, Meutya menyebut tiga syarat agar teknologi seperti AIoT berguna bagi petani dan pembudidaya, yaitu terhubung, tumbuh, dan terjaga. Perangkat harus tersambung ke internet, koneksi itu dipakai untuk kegiatan produktif, dan pengguna dibekali pengetahuan agar perangkatnya tetap terawat. Ia juga meminta peralatan yang diberikan dipakai dan dirawat dengan baik.

Syarat pertama sering menjadi hambatan terbesar di pesisir dan sentra budi daya. Merakit pernah membahas tantangan serupa dalam artikel tentang jaringan Starlink Mobile untuk perangkat di lokasi terpencil, termasuk sensor kualitas air di tambak.

Apa artinya bagi pelaku usaha budi daya?

Bagi pemilik tambak, koperasi, maupun perusahaan pengolahan hasil perikanan, kisah Lamongan memberi gambaran tentang apa yang perlu disiapkan sebelum memasang sensor. Teknologi pemantauan hanya bermanfaat bila datanya dapat dipercaya dan dipakai untuk mengambil keputusan sehari-hari.

Empat langkah sebelum memasang sensor IoT di tambak: catat data dasar, uji sinyal di kolam, siapkan perawatan sensor, dan ukur satu siklus panen

Langkah yang dapat dipertimbangkan:

  1. Catat data dasar lebih dulu. Simpan catatan pemakaian pakan, jumlah ikan mati, dan hasil panen sebelum alat dipasang. Tanpa data pembanding, klaim hemat pakan atau kenaikan pendapatan sulit dibuktikan.
  2. Uji sinyal di setiap kolam. Kekuatan sinyal di tengah tambak dapat berbeda dari peta cakupan operator. Siapkan juga cara agar alarm tetap sampai ketika koneksi terputus, misalnya lewat SMS atau penyimpanan data sementara di perangkat.
  3. Siapkan jadwal perawatan sensor. Sensor yang terendam air payau perlu dibersihkan dan diperiksa akurasinya secara berkala. Tentukan siapa yang bertanggung jawab di setiap kelompok.
  4. Ukur hasil selama satu siklus penuh. Bandingkan kolam yang memakai alat dengan kolam yang belum memakainya, lalu nilai hasilnya pada saat panen.

Data yang terkumpul juga dapat diolah lebih lanjut. Riwayat kualitas air, jadwal pakan, dan hasil panen dari banyak kolam dapat dianalisis untuk menemukan pola, misalnya jam-jam ketika oksigen sering turun. Di tahap ini, analitik data membantu mengubah catatan harian menjadi keputusan yang lebih terukur. Prinsip yang sama berlaku untuk otomasi industri di pabrik pakan, gudang pendingin, dan unit pengolahan ikan.

Bagi pembudidaya kecil, model kelompok seperti di Kampung Kerapu juga layak dicermati. Biaya perangkat, modem, dan pendampingan lebih ringan bila ditanggung bersama, dan pengalaman satu kelompok dapat menjadi pelajaran bagi kelompok lain.

Pertanyaan yang sering muncul

Apa yang dipantau sensor di tambak kerapu Lamongan?

Sensor memantau oksigen terlarut, pH, dan salinitas air tambak. Data tersebut dapat dilihat lewat aplikasi, dan sebagian pengoperasian alat, seperti aerator, dapat dilakukan dari jarak jauh.

Apakah Smart Venjet menggantikan kincir tambak?

Tidak. Menurut laporan Katadata, Smart Venjet adalah alat tambahan. Kincir tetap dipakai untuk sirkulasi air dan menambah oksigen, sedangkan Venjet memasukkan oksigen ke dalam air dan dilengkapi sistem pemantauan yang terhubung ke aplikasi.

Apakah hasil 20%, 16%, dan 24% sudah final?

Belum. Angka itu berasal dari uji coba sekitar lima bulan, sementara siklus panen kerapu sekitar satu tahun. Sumber yang ada juga belum menjelaskan data pembanding dan metode pengukurannya, sehingga hasil satu siklus penuh masih perlu ditunggu.

Penutup

Uji coba di Kampung Kerapu Lamongan menunjukkan bahwa sensor dan aplikasi pemantauan dapat dipakai di sektor pangan yang selama ini banyak bergantung pada pengalaman dan pengamatan langsung. Hasil awalnya positif, dan siklus panen penuh akan menunjukkan seberapa besar dampaknya. Jika organisasi Anda sedang merencanakan sistem pemantauan berbasis sensor untuk tambak, gudang, atau lini produksi, tim Merakit siap membantu merancangnya dari perangkat hingga dasbor.

Sumber

Ringkasan dalam satu gambar

Simpan atau bagikan ke tim Anda.

Unduh
Infografis ringkasan: AIoT di Tambak Kerapu Lamongan, Pakan Hemat hingga 20%

Topik

  • Internet of Things
  • Perikanan Budi Daya
  • Industri Pangan
  • Sensor Kualitas Air
  • Lamongan

Bagikan artikel ini

Diskusi dengan Tim Merakit

Punya tantangan serupa di organisasi Anda?

Ceritakan kebutuhan Anda. Tim kami bantu memetakan langkah dan solusi yang paling masuk akal, tanpa jargon.