Blog Cloud Computing

Laporan Gangguan Google Cloud London: Pelajaran bagi Bank

Ditulis oleh Merakit Indonesia

7 menit baca

Laporan Gangguan Google Cloud London: Pelajaran bagi Bank
Daftar isi· 9 bagian
  1. 1Apa yang terjadi di zona europe-west2-b
  2. 2Penyebabnya ada di logika kendali generator
  3. 3Dampak meluas ke zona lain dan aplikasi bank
  4. 4Pemulihan memakan waktu enam jam
  5. 5Relevansinya bagi layanan keuangan di Indonesia
  6. 6Apa artinya bagi bank dan fintech?
  7. 7Pertanyaan yang sering muncul
  8. 8Penutup
  9. 9Sumber

Google menerbitkan laporan final gangguan Google Cloud di London pada 27 Oktober 2026. Menurut laporan itu, listrik utilitas padam, lalu generator cadangan tidak menyala karena salah konfigurasi sistem kendali. Gangguan selama 6 jam 8 menit itu ikut mengganggu aplikasi bank dan fintech di Inggris.

Apa yang terjadi di zona europe-west2-b

Google Cloud membagi layanannya ke dalam region, yaitu kumpulan pusat data di satu wilayah. Setiap region terdiri atas beberapa zona, yakni lokasi dengan pasokan listrik, pendinginan, dan jaringan yang terpisah. Region London bernama europe-west2 dan memiliki tiga zona: europe-west2-a, -b, dan -c.

Menurut laporan insiden Google, gangguan bermula pada Selasa, 20 Oktober 2026, pukul 06.53 waktu London (12.53 WIB). Pemasok listrik utilitas mengalami pemadaman akibat kerusakan kabel bawah tanah di jaringan luar gedung pusat data yang menampung zona europe-west2-b.

Dalam kondisi normal, fasilitas ini menerima listrik dari dua jalur utilitas. Saat kejadian, satu jalur sedang dinonaktifkan untuk perbaikan, sehingga gedung hanya bergantung pada satu jalur. Ketika jalur itu padam, generator diesel seharusnya menyala otomatis dan mengambil alih beban. Hal itu tidak terjadi.

Baterai UPS (catu daya tak terputus) menopang server sesuai rancangan sampai cadangannya habis. Pukul 07.00 waktu London, server, perangkat jaringan, dan penyimpanan di zona itu kehilangan daya. Sistem pemantauan otomatis memberi tahu teknisi Google empat menit kemudian.

Penyebabnya ada di logika kendali generator

Bagian paling penting dari laporan final ada pada penjelasan mengapa generator diam. Gedung pusat data memakai PLC (programmable logic controller), komputer kecil yang mengatur kapan generator menyala. PLC itu memantau tegangan listrik: bila tegangan turun, generator diperintahkan menyala.

Google menulis bahwa sensor tegangan PLC terpasang di sisi luar pemutus jalur listrik yang sedang diperbaiki. Pemutus itu sudah dibuka, tetapi kabel di sisi luarnya masih bertegangan. Akibatnya, PLC membaca listrik masih ada dan tidak pernah mengirim perintah ke generator. Google menyebut ini salah konfigurasi logika PLC yang tidak memeriksa kondisi tegangan dan posisi fisik pemutus sekaligus.

Tabel perbandingan cadangan listrik pusat data Google Cloud London: rancangan normal dibandingkan kondisi saat gangguan 20 Oktober 2026

Kesalahan semacam ini sulit terlihat dalam operasi harian. Selama dua jalur utilitas aktif, logika PLC tidak pernah diuji pada kombinasi “satu jalur sedang diperbaiki, jalur lain padam”. Celahnya baru muncul ketika pemeliharaan dan kerusakan terjadi bersamaan.

Dampak meluas ke zona lain dan aplikasi bank

Pemadaman fisik hanya terjadi di zona europe-west2-b. Namun, laporan Google mencatat sebagian pelanggan di zona -a dan -c, serta layanan yang berjalan di seluruh region, juga mengalami latensi tinggi dan galat. Ketika lalu lintas dipindahkan dari zona yang mati, zona tetangga menerima lonjakan beban mendadak.

Daftar produk terdampak dalam laporan itu memuat puluhan layanan, mulai dari mesin virtual Compute Engine hingga basis data dan analitik. Di luar Google, dampaknya terasa pada layanan sehari-hari. Kantor berita AFP, yang dimuat Khaleej Times, melaporkan nasabah Revolut tidak dapat menarik uang di ATM, mentransfer dana, atau mengisi saldo kartu. Revolut tidak mengonfirmasi kaitannya dengan Google, tetapi sumber yang mengetahui masalah itu menyebut penyebabnya gangguan Google Cloud. Lloyds dan HSBC juga membenarkan nasabahnya mengalami masalah layanan.

Kantor berita PA, lewat The Irish News, melaporkan platform video sidang milik HM Courts & Tribunals Service sempat terhenti dan baru pulih menjelang tengah hari. Aplikasi pengelola anggaran Emma memberi tahu penggunanya bahwa layanannya mati karena gangguan Google Cloud. Hari itu Google menyatakan, “We apologise to all who are affected by the disruption.”

Pemulihan memakan waktu enam jam

Listrik dari jalur utilitas cadangan kembali pukul 07.54, dan ruang server kembali bertenaga pukul 08.20 waktu London. Pemulihan berikutnya berjalan lebih lambat. Banyak perangkat penyimpanan mati mendadak tanpa prosedur penutupan normal, sehingga integritas datanya harus diperiksa sebelum lalu lintas pelanggan dibuka kembali.

Linimasa gangguan Google Cloud London 20 Oktober 2026: listrik padam, baterai UPS habis, listrik pulih, layanan tersedia, dan 99,5 persen VM sehat

Google membuka lalu lintas secara bertahap mulai pukul 11.45. Layanan dan API Google Cloud tersedia penuh bagi pelanggan pukul 12.11, dan pada pukul 13.08 sebanyak 99,5 persen mesin virtual Compute Engine sudah beroperasi normal. Sebagian kecil mesin virtual membutuhkan pemulihan lebih lama melalui tiket dukungan.

Dalam laporannya, Google mencantumkan sejumlah langkah perbaikan. Di antaranya mengembalikan konfigurasi dua jalur listrik, menguji pengalihan beban penuh ke generator, meninjau kode PLC, memeriksa lokasi serupa di seluruh dunia paling lambat 15 November 2026, dan membekukan pemeliharaan terencana di lokasi sejenis. Google juga berjanji membangun pemberitahuan otomatis kepada pelanggan untuk insiden yang berdampak pada satu lokasi.

Relevansinya bagi layanan keuangan di Indonesia

Bank, fintech, dan penyelenggara pembayaran di Indonesia juga makin banyak menjalankan aplikasinya di cloud. Google Cloud, misalnya, mengoperasikan region Jakarta (asia-southeast2) dengan tiga zona, menurut dokumentasi Compute Engine. Struktur ini sama dengan region London.

Bagi perbankan, aturannya sudah ada. Menurut ringkasan Kontan atas POJK Nomor 11/POJK.03/2022 tentang Penyelenggaraan Teknologi Informasi oleh Bank Umum, bank wajib menempatkan sistem elektronik di pusat data dan pusat pemulihan bencana (DRC) di wilayah Indonesia. Rencana pemulihan bencana juga wajib diuji dan dikaji ulang paling sedikit sekali setahun.

Kasus London menunjukkan mengapa uji tahunan saja belum cukup. Cadangan yang terlihat lengkap di atas kertas dapat gagal ketika satu komponen sedang dipelihara. Google sendiri, dalam dokumentasinya, menyarankan pelanggan menyebar sumber daya ke beberapa zona dan menyatakan, penempatan di region berbeda memberi tingkat kemandirian yang lebih tinggi bila terjadi kegagalan.

Apa artinya bagi bank dan fintech?

Penyedia cloud bertanggung jawab atas gedung, listrik, dan generator. Pelanggan bertanggung jawab atas cara aplikasinya ditempatkan dan dipulihkan. Pembagian tanggung jawab ini membuat beberapa langkah berikut berada di tangan tim TI bank dan fintech sendiri.

Empat langkah bagi bank dan fintech setelah gangguan Google Cloud London: petakan zona, uji pindah zona, siapkan region kedua, dan siapkan pesan nasabah

  1. Petakan ketergantungan per zona. Catat layanan mana yang hanya berjalan di satu zona, termasuk basis data, antrean pesan, dan layanan pihak ketiga seperti penyedia OTP atau gerbang pembayaran.
  2. Uji pindah zona dalam kondisi sebenarnya. Matikan satu zona dalam latihan terjadwal dan ukur waktu pemulihannya. Uji juga skenario saat satu zona lain sedang dalam pemeliharaan.
  3. Tetapkan rencana region kedua untuk layanan inti. Untuk transfer, pembayaran, dan masuk aplikasi, tentukan target waktu pemulihan dan apakah region kedua dibutuhkan, dengan memperhatikan aturan lokasi data di Indonesia.
  4. Siapkan komunikasi kepada nasabah. Siapkan templat pemberitahuan, halaman status, dan kanal layanan pelanggan yang tidak bergantung pada sistem yang sama. Pernyataan Revolut bahwa uang dan data nasabah aman adalah contoh pesan yang perlu siap sejak awal.

Lonjakan beban ke zona tetangga juga perlu diperhitungkan. Kapasitas cadangan sebaiknya dipesan sebelumnya, karena saat insiden banyak pelanggan berebut sumber daya di zona yang sama. Tim yang sedang merancang arsitektur seperti ini dapat memulai dari layanan komputasi awan yang mencakup desain multi-zona dan rencana pemulihan.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah gangguan ini berdampak pada region Google Cloud di Jakarta?

Tidak. Laporan Google menyatakan dampaknya terbatas pada region europe-west2 di London dan tidak memengaruhi region lain.

Apakah menjalankan aplikasi di beberapa zona sudah cukup aman?

Multi-zona melindungi dari kegagalan satu gedung, tetapi kasus London menunjukkan zona tetangga dapat ikut melambat saat menerima limpahan beban. Untuk layanan yang harus tetap berjalan, kombinasikan multi-zona dengan kapasitas cadangan yang dipesan dan rencana region kedua.

Kapan Google menerbitkan laporan lengkapnya?

Google menerbitkan laporan awal pada 22 Oktober 2026 dan laporan final pada 27 Oktober 2026. Sebagian langkah perbaikan dijadwalkan selesai antara akhir Oktober dan 15 November 2026.

Penutup

Gangguan Google Cloud London berawal dari satu kabel listrik dan satu logika kendali yang keliru, tetapi dampaknya sampai ke ATM dan ruang sidang. Bagi bank dan fintech, pelajarannya ada pada pengujian cadangan dalam kondisi yang tidak ideal. Merakit membantu lembaga layanan keuangan merancang arsitektur cloud yang siap menghadapi gangguan seperti ini. Kasus serupa dapat dibaca juga dalam ulasan serangan terhadap pusat data Yandex.

Sumber

Ringkasan dalam satu gambar

Simpan atau bagikan ke tim Anda.

Unduh
Infografis ringkasan: Laporan Gangguan Google Cloud London: Pelajaran bagi Bank

Topik

  • Cloud Computing
  • Pusat Data
  • Layanan Keuangan
  • Ketahanan Sistem
  • Disaster Recovery

Bagikan artikel ini

Diskusi dengan Tim Merakit

Punya tantangan serupa di organisasi Anda?

Ceritakan kebutuhan Anda. Tim kami bantu memetakan langkah dan solusi yang paling masuk akal, tanpa jargon.