Blog Semikonduktor
Danantara Rancang Chip dan Perangkat Pusat Data Buatan Lokal
Daftar isi· 7 bagian
Danantara ingin Indonesia ikut membuat perangkat dan chip pusat data, tidak lagi berhenti pada penyewaan lahan. Di Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin, 26 Oktober 2026, CTO Danantara Sigit Puji Santosa memaparkan lebih dari 40 proyek di enam klaster industri, termasuk chip dan pengontrol untuk pusat data.
Dari sewa lahan ke pembuatan perangkat
Danantara, atau Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, adalah lembaga pengelola investasi negara yang menaungi badan usaha milik negara (BUMN). Menurut CNBC Indonesia, lembaga ini ingin industri pusat data nasional naik ke tahap bernilai tambah lebih tinggi, yaitu memproduksi peralatan pusat data di dalam negeri.
Alasannya dijelaskan Sigit dalam konferensi pers menjelang forum pada 19 Oktober 2026, seperti dilaporkan Fortune Indonesia. Ia mencontohkan investasi pusat data senilai 3–4 miliar dolar AS yang hanya menghasilkan pendapatan sekitar 100–150 juta dolar AS bagi penyedia lahan. “Kalau kita hanya menyewakan lahan, impaknya tidak besar,” kata Sigit.
Fortune Indonesia juga mencatat proyeksi Danantara: bila perusahaan nasional terlibat lebih dalam di industri pusat data, pendapatan tahunannya dapat naik dari 100–150 juta dolar AS menjadi 1,5–7 miliar dolar AS. Angka ini adalah proyeksi lembaga tersebut dan belum disertai rincian perhitungannya.

Media teknologi The Tech Capital merangkum arah ini sebagai langkah Danantara dari pengembangan pusat data menuju manufaktur peralatan dan kemampuan semikonduktor di dalam negeri, termasuk chip dan pengontrol.
Pengontrol (controller) di pusat data adalah chip yang mengatur kerja perangkat lain, misalnya pengelolaan daya, penyimpanan, atau jaringan di dalam server. Komponen seperti ini jarang terlihat, tetapi dipakai dalam jumlah besar di setiap rak. Danantara belum merinci jenis pengontrol yang akan dikembangkan.
Peta jalan 40 proyek di enam klaster
Dalam paparannya di DTIIF, Sigit menyebut Danantara memiliki lebih dari 40 proyek yang tersebar di enam klaster industri. Menurut CNBC Indonesia, keenam klaster itu adalah energi; pangan, kesehatan, dan pertanian; pertahanan, maritim, dan dirgantara; material maju; telekomunikasi dan mobilitas; serta klaster lainnya. Daftar yang disampaikan pada konferensi pers 19 Oktober, menurut Fortune Indonesia, sedikit berbeda dan memuat infrastruktur digital serta perbankan dan teknologi finansial sebagai pilar tersendiri.
Klaster telekomunikasi dan mobilitas memuat proyek yang paling dekat dengan dunia teknologi. CNBC Indonesia mencatat daftar prioritasnya mencakup pusat data berkapasitas 1 gigawatt, kedaulatan AI nasional, e-commerce nasional, cloud berdaulat (sovereign cloud), blockchain nasional, Garuda Command Center, proyek mobil dan motor nasional, serta sistem keterlacakan.
Untuk tahap berikutnya, klaster ini juga menyiapkan baterai generasi baru, peralatan pengisian daya, sistem pemindaian, traksi motor listrik, dan jaringan 5G privat untuk industri. Klaster lainnya memuat perangkat komputasi, alat berat listrik, sensor dan instrumen optik, serta robot industri.
Di bidang semikonduktor, Danantara menyatakan sedang mengembangkan enam sektor. Menurut Sigit, salah satunya mencakup pengontrol dan chip untuk pusat data.
Dari sisi pendanaan, CNBC Indonesia melaporkan target investasi 20–30 miliar dolar AS dalam dua sampai tiga tahun, yang menurut Sigit dapat terlampaui. Sekitar 1.500 orang terdaftar mengikuti forum tiga hari yang berlangsung pada 26–28 Oktober 2026 di Fairmont Jakarta itu. Danantara juga berencana menandatangani sejumlah nota kesepahaman dengan perusahaan dan perguruan tinggi, lalu memetakan kampus di sekitar kawasan industri agar dapat mendukung industri BUMN.

Hal yang belum diumumkan
Sumber-sumber yang ada belum menyebut lokasi pusat data 1 gigawatt, jadwal pembangunannya, maupun mitra pelaksananya. Nilai investasi per proyek dan pabrik yang akan memproduksi chip juga belum diumumkan.
Pekerjaan rumah lain datang dari regulasi. Pada 20 Oktober 2026, Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi Wayan Toni Supriyanto menyampaikan bahwa rancangan peraturan presiden tentang pusat data dan kabel bawah laut sedang dimatangkan setelah melalui konsultasi publik, menurut Bisnis.com. Rancangan itu mendorong pembangunan pusat data keluar dari Batam dan Jawa, misalnya ke Sulawesi dan Kupang, dengan memperhatikan pasokan listrik, air, dan kesesuaian lokasi.
Pasokan listrik menjadi faktor penting. Kasus rak Nvidia milik Amazon yang menunggu pasokan listrik menunjukkan bahwa perangkat keras dapat tiba lebih cepat dibanding kesiapan daya di lokasi pusat data.
Kemitraan Arm dan enam desain chip nasional
Langkah Danantara di bidang chip bertumpu pada kerja sama dengan Arm, perusahaan perancang arsitektur chip asal Inggris. Menurut Arm, kemitraan strategis itu ditandatangani di London pada 23 Februari 2026 dan dihadiri Presiden Prabowo Subianto serta CEO Arm Rene Haas. Lewat program Arm Total Access, Danantara mendapat akses ke platform komputasi Arm untuk AI di perangkat tepi, perangkat fisik, dan cloud. CNBC Indonesia menyebut kemitraan ini diumumkan pada Mei; perbedaan tanggal ini kemungkinan merujuk pada tahap yang berbeda.
Arm tidak membuat chip sendiri. Perusahaan ini melisensikan rancangan dan arsitekturnya kepada pihak lain, yang kemudian merancang chip sesuai kebutuhannya lalu memproduksinya di pabrik. Model lisensi ini memungkinkan sebuah negara memiliki desain chip sendiri tanpa harus membangun semuanya dari nol.
Sehari setelah penandatanganan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan rincian kerja sama itu kepada ANTARA. Targetnya adalah melatih 15.000 insinyur Indonesia agar menguasai desain chip, dengan pendanaan awal 150 juta dolar AS untuk membangun industri semikonduktor nasional.
Airlangga juga menyebut enam desain chip nasional yang kekayaan intelektualnya akan dimiliki Indonesia: otomotif, Internet of Things (IoT), pusat data, peralatan rumah tangga, serta dua opsi yang masih dibahas, yaitu kendaraan otonom dan komputasi kuantum. ITB, UGM, dan Universitas Indonesia disebut sudah menyiapkan diri untuk agenda ini selama hampir dua tahun.
Apa artinya bagi industri dan pabrik?
Rencana ini masih berupa peta jalan, tetapi arahnya relevan bagi pabrik, pemasok komponen, dan perusahaan teknologi di Indonesia. Desain chip untuk otomotif, IoT, dan peralatan rumah tangga menyentuh produk yang dibuat di banyak kawasan industri, sedangkan jaringan 5G privat dan robot industri masuk daftar proyek Danantara.
Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan sekarang:
- Petakan komponen elektronik yang dipakai. Catat chip, pengontrol, dan sensor dalam produk atau lini produksi Anda, beserta asal pemasoknya. Daftar ini membantu menilai bagian mana yang kelak dapat memakai pasokan dalam negeri.
- Pantau forum dan kerja sama Danantara. Nota kesepahaman dengan perusahaan dan kampus akan menentukan siapa yang terlibat lebih awal. Pemasok yang dekat dengan kawasan industri BUMN berpeluang dilibatkan.
- Siapkan tim dan data pabrik. Proyek seperti 5G privat, sensor, dan robot industri membutuhkan data mesin yang tercatat rapi. Pabrik yang sudah memantau mesinnya secara digital lebih siap memanfaatkan perangkat baru. Pendekatan otomasi industri dan layanan IoT dapat dimulai dari satu lini produksi.
- Hitung ulang rencana infrastruktur. Bagi perusahaan yang memakai pusat data atau cloud di Indonesia, rencana pusat data 1 gigawatt dan cloud berdaulat dapat memengaruhi pilihan lokasi dan penyedia dalam beberapa tahun ke depan. Tim komputasi awan perlu memantau aturan pusat data yang sedang disiapkan.

Ekspektasi tetap perlu realistis. Merancang chip dan memproduksinya adalah dua tahap yang berbeda, dan pabrik chip membutuhkan investasi serta waktu yang sangat besar. Sumber yang ada baru menyebut desain, pelatihan insinyur, dan target investasi, belum jadwal produksi.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah Indonesia akan memproduksi chip sendiri?
Danantara menyatakan sedang mengembangkan enam sektor semikonduktor, termasuk chip dan pengontrol pusat data, dan bekerja sama dengan Arm untuk desain chip. Lokasi pabrik, kapasitas produksi, dan jadwalnya belum diumumkan.
Apa peran Arm dalam rencana ini?
Arm memberikan akses ke arsitektur dan platform komputasinya lewat program Arm Total Access, serta mendukung pelatihan insinyur. Menurut pemerintah, targetnya 15.000 insinyur Indonesia menguasai desain chip, dengan kekayaan intelektual desain nasional dimiliki Indonesia.
Kapan pusat data 1 gigawatt akan dibangun?
Belum diumumkan. Proyek ini tercantum dalam daftar prioritas klaster telekomunikasi dan mobilitas, tetapi lokasi, jadwal, dan mitranya belum disampaikan. Aturan pusat data dari Komdigi juga masih dalam tahap rancangan.
Penutup
Peta jalan Danantara menempatkan chip, pengontrol, dan perangkat pusat data sebagai bagian dari rencana industri nasional, didukung kemitraan desain dengan Arm dan target investasi 20–30 miliar dolar AS. Rincian proyek akan menentukan seberapa cepat rencana ini terasa di pabrik dan pusat data. Jika organisasi Anda ingin menyiapkan data produksi atau infrastruktur digital sejak sekarang, tim Merakit Indonesia siap membantu menyusun langkah awalnya.
Sumber
- Danantara Mau Kembangkan Chip AI Hingga Data Center Raksasa 1 GW, CNBC Indonesia, 26 Oktober 2026
- Ahli Teknologi Kumpul, Danantara Dorong Industri Teknologi di RI, CNBC Indonesia, 26 Oktober 2026
- Danantara Fokus Kembangkan Enam Pilar Industri, Gelar DTIIF 2026 Tarik Pemodal Global, Fortune Indonesia, 20 Oktober 2026
- Indonesia’s Danantara pushes into data centre hardware and chip development, The Tech Capital, 26 Oktober 2026
- Arm and Danantara Indonesia partnership, Arm Newsroom, 2 Maret 2026
- Indonesia targets 15,000 engineers to master chip design technology, ANTARA, 24 Februari 2026
- Komdigi Siapkan Perpres Data Center dan SKKL, Dorong Pemerataan ke Indonesia Timur, Bisnis.com, 20 Oktober 2026