Blog TKA 2026

Skor TKA 200–800: Cara Kerja IRT dan Cara Membacanya

Ditulis oleh Merakit Indonesia

7 menit baca

Skor TKA 200–800: Cara Kerja IRT dan Cara Membacanya
Daftar isi· 8 bagian
  1. 1Skala baru untuk TKA SMA 2026
  2. 2Cara kerja teori respons butir
  3. 3Cara membaca skor 200–800
  4. 4Pelaksanaan TKA SMA pekan ini
  5. 5Apa artinya bagi sekolah?
  6. 6Pertanyaan yang sering muncul
  7. 7Penutup
  8. 8Sumber

Skor TKA jenjang SMA/MA/SMK 2026 dilaporkan dalam rentang 200–800, menggantikan rentang 0–100 tahun lalu. Kemendikdasmen menegaskan skor ini tidak menunjukkan persentase jawaban benar. Skor 600, misalnya, tidak berarti murid menjawab benar 60 persen soal. Angka itu adalah hasil pengolahan dengan teori respons butir (IRT) dua parameter.

Skala baru untuk TKA SMA 2026

Penjelasan resmi datang lewat siaran pers Kemendikdasmen nomor 899/sipers/A6/X/2026 tertanggal 24 Oktober 2026, dua hari sebelum Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA dan sederajat dimulai. Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Toni Toharudin, menyebut skala baru ini bertujuan menyajikan hasil pengukuran kemampuan akademik murid secara lebih informatif.

Menurut Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur, perubahan skala ini tercantum dalam Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 56 Tahun 2026. Hasil TKA dikelompokkan ke tiga kategori capaian, yaitu Baik, Memadai, dan Kurang. Murid yang memperoleh skor 725,00 atau lebih pada setiap mata uji mendapat predikat Istimewa.

Batas angka untuk kategori Baik, Memadai, dan Kurang tidak disebut dalam siaran pers maupun laporan yang kami baca. Sekolah sebaiknya merujuk langsung ke dokumen keputusan menteri tersebut sebelum menjelaskan kategori kepada murid.

Perubahan ini terjadi pada tahun yang sama dengan pelaksanaan TKA yang lebih panjang. Persiapan teknisnya, termasuk gladi bersih di sekolah, sudah kami bahas dalam artikel kesiapan ujian digital TKA 2026.

Cara kerja teori respons butir

Teori respons butir, atau Item Response Theory (IRT), adalah metode statistik yang memperkirakan kemampuan peserta dari pola jawabannya, dengan memperhitungkan sifat setiap soal. Metode ini lazim dipakai pada tes berskala besar yang memakai lebih dari satu paket soal.

Jumlah jawaban benar belum cukup

Toni memberi contoh sederhana. Pada tes berisi sepuluh soal berbobot sama, delapan jawaban benar menghasilkan nilai 80. Cara ini wajar bila semua murid mengerjakan soal yang sama.

TKA berbeda. Murid dapat menerima paket soal dengan tingkat kesulitan yang tidak sama. Menurut Kemendikdasmen, dua murid dengan jumlah jawaban benar yang sama belum tentu memiliki kemampuan yang sebanding bila paket soal mereka berbeda tingkat kesulitannya.

Dua parameter setiap soal

Model IRT dua parameter memberi setiap soal dua ciri. Parameter pertama adalah tingkat kesukaran, yaitu tingkat kemampuan yang dibutuhkan agar peluang menjawab benar mencapai separuh. Parameter kedua adalah daya pembeda, yaitu seberapa tajam soal itu memisahkan murid yang kemampuannya lebih tinggi dari yang lebih rendah.

Dalam praktik IRT, kedua parameter ini umumnya diperkirakan dari data jawaban peserta dalam jumlah besar. Saat skor dihitung, jawaban benar pada soal yang daya pembedanya tinggi memberi informasi lebih banyak tentang kemampuan murid. Hasil akhirnya berupa perkiraan kemampuan, lalu disajikan pada rentang 200–800.

Tabel perbandingan metode pengukuran dan skala pelaporan TKA SMA 2026: IRT dua parameter memperkirakan kemampuan dari kesukaran dan daya pembeda soal, sedangkan skala 200–800 menampilkan hasil dengan kategori Baik, Memadai, Kurang, dan predikat Istimewa mulai 725

Metode pengukuran dan skala pelaporan

Kemendikdasmen membedakan dua hal yang sering tercampur. Metode pengukuran adalah cara memperkirakan kemampuan, dalam hal ini IRT dua parameter. Skala pelaporan adalah cara hasil itu ditampilkan, dalam hal ini rentang 200–800.

Karena itu, perubahan skala tidak berarti soal menjadi lebih sulit atau kemampuan murid meningkat. Skor baru juga tidak dapat dikonversi ke skala lama dengan pembagian atau perkalian sederhana. Membagi skor 600 dengan delapan, misalnya, tidak menghasilkan nilai yang setara dengan skala 0–100.

Cara membaca skor 200–800

Ada tiga hal yang perlu diingat saat membaca skor TKA.

Pertama, skor menggambarkan perkiraan kemampuan pada setiap mata uji. Skor itu tidak menunjukkan berapa soal yang dijawab benar, sehingga pertanyaan “berapa persen benarnya” tidak dapat dijawab dari angka skor.

Kedua, selisih kecil perlu dibaca dengan hati-hati. Setiap perkiraan statistik memiliki galat pengukuran, yaitu rentang ketidakpastian di sekitar angka yang dilaporkan. Kemendikdasmen menyebut selisih skor yang kecil perlu dimaknai dengan mempertimbangkan galat ini. Dua murid yang skornya hanya terpaut beberapa poin belum tentu berbeda kemampuannya secara berarti.

Ketiga, skor dapat dibandingkan antartahun. Kemendikdasmen menyatakan penyetaraan antartahun dilakukan melalui estimasi kemampuan dengan IRT dua parameter. Penyetaraan ini memudahkan sekolah membandingkan capaian angkatan sekarang dengan angkatan berikutnya.

Fakta besar skor TKA 600 tidak sama dengan 60 persen jawaban benar, disertai kutipan Toni Toharudin dari Kemendikdasmen tentang makna angka 200–800

Kemendikdasmen juga menjelaskan pemakaian hasil TKA. Di sekolah, hasil TKA dapat dipakai bersama penilaian kelas dan pekerjaan murid untuk menentukan kebutuhan pendampingan belajar. Orang tua dapat memakainya untuk memahami kesulitan anak. Bagi perguruan tinggi, TKA menyediakan informasi capaian akademik yang dapat melengkapi nilai rapor dalam seleksi jalur prestasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Toni juga mengingatkan tujuan akhirnya. “Angka 200–800 akan bermakna apabila membantu kita membaca capaian murid dan memperbaiki pembelajaran,” katanya, seperti dikutip BBPMP Jawa Timur.

Pelaksanaan TKA SMA pekan ini

Menurut Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, sebanyak 3.864.195 peserta telah mendaftar dari 4.213.114 calon peserta, atau 91,72 persen. Angka ini disampaikan Toni dalam taklimat media pada 23 Oktober 2026.

TKA reguler dijadwalkan dalam dua gelombang, yaitu 26–29 Oktober dan 2–5 November 2026. Gelombang khusus mata pelajaran wajib berlangsung 31 Oktober–1 November, sedangkan mata pelajaran pilihan pada 7–8 November 2026. Moda daring disiapkan untuk melayani hingga 900.000 peserta secara bersamaan, dengan 50.474 pengawas ruang dan 1.710 penyelia dari perguruan tinggi negeri.

Pelaksanaannya tidak sepenuhnya lancar. Menurut Jawa Pos, sesi 1 pada hari kedua, Selasa 27 Oktober, mengalami kendala jaringan yang berdampak pada sebagian murid. Kemendikdasmen menyediakan sesi khusus pada Jumat, 30 Oktober 2026, mulai pukul 07.00 WIB bagi murid yang perlu dijadwal ulang. Penyebab gangguan dan jumlah murid yang terdampak belum diumumkan.

Apa artinya bagi sekolah?

Skala baru ini mengubah cara sekolah menjelaskan hasil kepada murid, orang tua, dan guru. Beberapa langkah berikut dapat disiapkan sebelum hasil keluar.

Empat langkah bagi sekolah membaca skor TKA 200–800: jelaskan skala ke murid dan orang tua, baca bersama nilai kelas, hindari peringkat dari selisih kecil, dan catat murid yang terdampak kendala

  1. Siapkan penjelasan singkat untuk murid dan orang tua. Tegaskan bahwa skor tidak sama dengan persentase benar dan tidak dapat dikonversi ke skala 0–100. Penjelasan satu halaman dapat mencegah salah paham saat hasil dibagikan.
  2. Baca skor bersama data kelas. Gabungkan skor TKA dengan nilai ulangan, tugas, dan catatan guru per mata pelajaran. Pola yang konsisten di beberapa sumber lebih dapat dipercaya daripada satu angka.
  3. Hindari peringkat dari selisih kecil. Kelompokkan murid berdasarkan kategori capaian atau rentang skor yang lebar. Peringkat yang ditentukan oleh selisih beberapa poin mudah keliru karena galat pengukuran.
  4. Catat murid yang terdampak kendala. Sesuai arahan Kemendikdasmen, kendala yang membuat murid tidak dapat mengikuti jadwal dicatat dalam berita acara, lalu dikoordinasikan lewat dinas pendidikan atau kantor wilayah Kementerian Agama.

Bagi dinas pendidikan dan yayasan yang mengelola banyak sekolah, hasil TKA juga dapat menjadi bahan analisis. Rekap per sekolah, per mata uji, dan per kategori dapat membantu menentukan pelatihan guru atau pendampingan yang paling dibutuhkan. Pekerjaan seperti ini memerlukan data yang rapi dan tampilan yang mudah dibaca, bidang yang dikerjakan lewat layanan analitik data.

Sekolah yang menyelenggarakan ujian sendiri secara digital juga dapat mulai mencatat jawaban per soal. Dari data itu, guru dapat melihat soal mana yang terlalu mudah, terlalu sulit, atau kurang membedakan murid, prinsip yang sama dengan yang dipakai TKA dalam skala jauh lebih besar.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah skor TKA 600 berarti 60 persen jawaban benar?

Tidak. Kemendikdasmen menegaskan skala 200–800 adalah bentuk pelaporan hasil yang mempertimbangkan karakteristik soal. Skor 600 tidak berarti murid menjawab benar 60 persen soal.

Apakah soal TKA 2026 lebih sulit karena skalanya berubah?

Menurut Kemendikdasmen, perubahan skala tidak berarti soal menjadi lebih sulit atau kemampuan murid meningkat. Tingkat kesulitan ditentukan oleh rancangan soal, sedangkan skala menentukan cara hasil ditampilkan.

Berapa skor untuk predikat Istimewa di TKA SMA?

Murid jenjang SMA dan SMK memperoleh predikat Istimewa bila meraih skor 725,00 atau lebih pada setiap mata uji, menurut BBPMP Jawa Timur yang merujuk Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 56 Tahun 2026.

Penutup

Skala 200–800 membawa skor TKA ke cara tes berskala besar mengukur kemampuan. Perubahan ini menuntut penjelasan yang lebih hati-hati kepada murid dan orang tua. Sekolah yang menyiapkan penjelasan dan data kelasnya sejak sekarang akan lebih siap saat hasil diumumkan. Untuk menata ujian digital dan data hasil belajar di sekolah, tim Merakit dapat membantu lewat solusi teknologi pendidikan.

Sumber

Ringkasan dalam satu gambar

Simpan atau bagikan ke tim Anda.

Unduh
Infografis ringkasan: Skor TKA 200–800: Cara Kerja IRT dan Cara Membacanya

Topik

  • TKA 2026
  • Asesmen Pendidikan
  • Analitik Data
  • Pendidikan
  • Teori Respons Butir

Bagikan artikel ini

Diskusi dengan Tim Merakit

Punya tantangan serupa di organisasi Anda?

Ceritakan kebutuhan Anda. Tim kami bantu memetakan langkah dan solusi yang paling masuk akal, tanpa jargon.