Blog Komputasi Awan
Google Cloud dan Azure Melonjak: Arti bagi Pengguna Cloud
Daftar isi· 7 bagian
Pendapatan Google Cloud naik 103% menjadi 30,7 miliar dolar AS pada kuartal III 2026, sementara pendapatan Azure milik Microsoft tumbuh 48%. Kedua laporan yang terbit pada 28 Oktober 2026 itu menunjukkan permintaan cloud untuk AI masih jauh dari jenuh. Bagi perusahaan pengguna cloud, angka ini memberi petunjuk tentang kapasitas, kontrak, dan biaya ke depan.
Angka kuartal III dari Alphabet dan Microsoft
Alphabet, induk Google, melaporkan pendapatan 127,6 miliar dolar AS untuk kuartal yang berakhir 30 September 2026, naik 25% dibanding tahun sebelumnya. Menurut siaran pers Alphabet, unit Google Cloud menyumbang 30,7 miliar dolar, lebih dari dua kali lipat pendapatan kuartal yang sama tahun lalu.
Laba operasional Google Cloud juga melonjak menjadi 11,1 miliar dolar, dari sekitar 3,6 miliar dolar setahun sebelumnya. Alphabet menyebut penjualan sistem TPU, yaitu chip AI rancangan Google yang disewakan atau dijual kepada pelanggan, ikut menjadi pendorong pertumbuhan yang berarti.
CEO Alphabet Sundar Pichai menjelaskan sumber lonjakan itu dalam siaran pers yang sama: “Google Cloud revenues grew 103%, powered by huge demand for our AI infrastructure and AI solutions.”
Pada hari yang sama, Microsoft mengumumkan hasil kuartal I tahun fiskal 2027, yang juga berakhir 30 September 2026. Siaran pers Microsoft mencatat pendapatan 92,3 miliar dolar AS, naik 19%. Pendapatan Microsoft Cloud mencapai 63,9 miliar dolar, naik 30%, dan pendapatan Azure tumbuh 48%.

Laporan Alphabet juga menyebut pendapatan produk Google Cloud terutama berasal dari penjualan sistem TPU. Bagi pelanggan, ini berarti pilihan akselerator AI di cloud tidak lagi terbatas pada GPU Nvidia. Model yang dirancang agar dapat berjalan di beberapa jenis akselerator memberi ruang tawar yang lebih besar saat salah satu jenis sulit didapat.
Pertumbuhan cloud jauh melampaui pertumbuhan perusahaan secara keseluruhan. Artinya, cloud kini menjadi mesin utama kedua perusahaan, dan sebagian besar dorongannya datang dari pelanggan yang melatih serta menjalankan model AI.
Belanja pusat data yang terus membesar
Pertumbuhan secepat ini memerlukan gedung, listrik, server, dan chip dalam jumlah besar. Alphabet membelanjakan 51,4 miliar dolar AS untuk properti dan peralatan selama kuartal III, naik dari sekitar 24 miliar dolar pada kuartal yang sama tahun lalu.
Menurut Fortune, Alphabet mempertahankan perkiraan belanja modal sekitar 200 miliar dolar untuk 2026 dan memperkirakan angkanya naik hingga 300 miliar dolar pada 2027. Direktur Keuangan Alphabet Anat Ashkenazi menyatakan rincian rencana tahun depan akan disampaikan pada laporan kuartal IV. Belanja sebesar itu membuat arus kas bebas Alphabet negatif 9,1 miliar dolar pada kuartal III, dan saham Alphabet turun lebih dari 11% dalam perdagangan setelah jam bursa.
Angka belanja modal Microsoft berbeda menurut cara penghitungannya. WindowsForum mencatat belanja modal 45,2 miliar dolar, sedangkan 24/7 Wall St. menyebut belanja properti dan peralatan 39,4 miliar dolar, lebih dari dua kali lipat setahun sebelumnya. Perbedaan definisi membuat kedua angka tidak dapat langsung dibandingkan, tetapi keduanya sama-sama menunjukkan kenaikan belanja yang tajam.
Kapasitas masih menjadi batas
Laporan kuartal ini juga memperlihatkan bahwa penyedia cloud belum mampu menambah kapasitas secepat permintaan. Menurut ringkasan WindowsForum atas paparan kepada analis, Direktur Keuangan Microsoft Amy Hood menyebut sebagian pengiriman kapasitas dari pihak ketiga terlambat, sehingga belanja kuartal ini lebih rendah dari perkiraan. Microsoft juga memperkirakan Azure tumbuh 49% hingga 50% pada kuartal berikutnya.
24/7 Wall St. mencatat nilai kontrak komersial Microsoft yang belum diakui sebagai pendapatan naik 73% menjadi 677 miliar dolar AS. Angka ini mencerminkan komitmen pelanggan untuk tahun-tahun mendatang, sehingga sebagian kapasitas baru kemungkinan sudah terikat kontrak sebelum selesai dibangun.
Situasi ini sejalan dengan fenomena dark GPU di Amazon Web Services, yaitu rak server AI yang sudah dibeli tetapi menunggu pasokan listrik. Penyedia cloud besar menghadapi batas yang serupa. Chip dapat dipesan dalam hitungan bulan, sedangkan gedung pusat data dan sambungan listrik baru umumnya memerlukan waktu lebih lama.
Posisi region cloud di Indonesia
Bagi pengguna di Indonesia, pertanyaan pentingnya adalah seberapa besar persaingan kapasitas global ini terasa di dalam negeri. Kedua penyedia sudah memiliki region lokal. Google membuka region Jakarta (asia-southeast2) pada Juni 2020 dengan tiga zona. Microsoft meresmikan region Indonesia Central pada 27 Mei 2025 dengan tiga zona ketersediaan, sebagai bagian dari komitmen investasi 1,7 miliar dolar AS, menurut Katadata.

Laporan keuangan kedua perusahaan tidak merinci kapasitas per negara, sehingga dampaknya terhadap region Jakarta dan Indonesia Central belum dapat dipastikan. Hal yang dapat dibaca dengan jelas adalah arah investasinya: belanja terbesar mengalir ke infrastruktur AI, dan layanan GPU atau akselerator AI menjadi sumber daya yang paling diperebutkan.
Apa artinya bagi perusahaan pengguna cloud?
Perusahaan yang menjalankan aplikasi biasa, seperti situs web, sistem kasir, atau aplikasi internal, kemungkinan tidak merasakan perubahan langsung dalam waktu dekat. Dampaknya lebih terasa pada perusahaan dan startup yang berencana menjalankan model AI sendiri atau menambah kapasitas dalam jumlah besar. Beberapa langkah berikut layak dipertimbangkan.
Pertama, rencanakan kebutuhan kapasitas lebih awal. Bila proyek AI membutuhkan GPU di region tertentu, ajukan kebutuhan itu kepada penyedia atau mitra cloud sejak tahap perencanaan, termasuk opsi reservasi kapasitas yang tersedia di masing-masing penyedia.
Kedua, baca ulang kontrak dan komitmen pemakaian. Komitmen jangka panjang biasanya memberi potongan harga, tetapi juga mengikat. Pastikan komitmen sesuai proyeksi pemakaian yang realistis, bukan target yang paling optimistis.
Ketiga, siapkan alternatif. Aplikasi yang dirancang agar dapat berjalan di lebih dari satu region atau penyedia lebih tahan terhadap kekurangan kapasitas maupun gangguan. Pertimbangan antara penyedia lokal dan global dibahas lebih lanjut dalam ulasan cloud lokal dan global untuk startup dan UKM.
Data yang tunduk pada aturan pelindungan data pribadi atau ketentuan regulator sektor juga perlu dipetakan sejak awal. Data seperti ini sebaiknya tetap di region dalam negeri, sementara beban kerja yang tidak sensitif, misalnya pelatihan model dengan data anonim, dapat dipindahkan ke region lain saat kapasitas lokal terbatas.
Keempat, pantau biaya secara rutin. Tagihan cloud untuk AI dapat naik cepat karena pemakaian GPU dihitung per jam. Dasbor biaya dengan anggaran dan peringatan per proyek membantu tim mengetahui pemborosan sebelum tagihan bulanan tiba.

Tim Merakit melalui layanan komputasi awan membantu perusahaan menyusun arsitektur, memperkirakan kapasitas, dan mengendalikan biaya cloud, termasuk untuk beban kerja AI.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah harga layanan cloud akan naik?
Alphabet dan Microsoft tidak mengumumkan perubahan harga dalam laporan kuartal ini. Permintaan yang tinggi dapat memengaruhi ketersediaan dan potongan harga untuk layanan GPU, tetapi hal itu belum dikonfirmasi oleh kedua penyedia.
Apakah region Jakarta dan Indonesia Central ikut kekurangan kapasitas?
Laporan keuangan kedua perusahaan tidak menyebut kapasitas per region. Cara paling akurat untuk mengetahuinya adalah memeriksa ketersediaan jenis mesin yang dibutuhkan di konsol penyedia atau menanyakannya langsung kepada tim penjualan penyedia.
Mengapa saham Alphabet turun padahal pendapatan cloud naik?
Menurut Fortune, investor menyoroti belanja modal yang sangat besar, arus kas bebas yang negatif, dan pertumbuhan pendapatan Google Search yang melambat menjadi 12%. Pertumbuhan cloud yang tinggi belum menutup kekhawatiran atas biaya pembangunan infrastruktur AI.
Penutup
Laporan kuartal III 2026 memperlihatkan penyedia cloud terbesar tumbuh pesat karena AI, sekaligus berlomba membangun kapasitas yang belum mencukupi. Bagi perusahaan di Indonesia, saat ini tepat untuk menata rencana kapasitas, kontrak, dan biaya cloud sebelum kebutuhan AI membesar. Tim Merakit siap membantu menyusun langkah pertamanya.
Sumber
- Alphabet: Announces Third Quarter 2026 Results, Form 8-K Exhibit 99.1 (28 Oktober 2026)
- Microsoft: Microsoft announces first quarter results (28 Oktober 2026)
- Fortune: Alphabet’s Google Cloud revenue doubles to $31 billion as cash flow stays deep red (28 Oktober 2026)
- WindowsForum: Microsoft Azure Revenue Jumps 48% as AI Spending Forecast Falls to $170 Billion (28 Oktober 2026)
- 24/7 Wall St.: Microsoft Q1 2027 earnings (28 Oktober 2026)
- Google Cloud Blog: New Google Cloud region in Jakarta is now open (24 Juni 2020)
- Katadata: Microsoft resmikan kluster data center pertama di Indonesia, investasi Rp 28 T (27 Mei 2025)