Blog Komputasi Awan

Project Suncatcher: Respons AI Pertama dari TPU di Orbit

Ditulis oleh Merakit Indonesia

8 menit baca

Project Suncatcher: Respons AI Pertama dari TPU di Orbit
Daftar isi· 8 bagian
  1. 1Haiku pertama dari orbit
  2. 2Satelit seukuran kulkas dengan empat TPU
  3. 3Rancangan pusat data di orbit
  4. 4Persaingan dan keraguan para ahli
  5. 5Apa artinya bagi pengguna cloud di Indonesia?
  6. 6Pertanyaan yang sering muncul
  7. 7Penutup
  8. 8Sumber

Google mengumumkan bahwa satelit prototipe Project Suncatcher berhasil menjalankan model AI di chip TPU kelas pusat data yang berada di orbit, lalu mengirim jawabannya ke Bumi. Ini respons AI pertama dari TPU di luar angkasa, sekaligus langkah awal riset Google untuk membangun pusat data AI bertenaga surya di orbit.

Haiku pertama dari orbit

Kabar itu disampaikan Travis Beals, Senior Director di Google Research yang memimpin proyek ini, lewat blog resmi Google pada 30 Oktober 2026. Satelit prototipe diluncurkan pada 1 Oktober 2026. Selama beberapa minggu berikutnya, tim menyelesaikan tahap komisioning, yaitu menyalakan komputer induk dan baki TPU, lalu menjalankan uji pembelajaran mesin awal.

Tonggak yang disebut Google sebagai Hello World terjadi saat satelit melintas di atas stasiun bumi. Tim mengirim perintah ke model terbuka Gemma 4 yang terpasang di satelit, memintanya menulis haiku tentang berada di luar angkasa. Jawaban berupa puisi pendek itu diterima saat satelit melintas di atas Svalbard, Norwegia, dan menjadi bukti bahwa seluruh rantai kerja berfungsi.

CEO Google Sundar Pichai menggambarkan urutannya di X, seperti dikutip The Hans India: perintah dikirim ke orbit, TPU dinyalakan, prompt dijalankan, lalu respons diterima di Bumi. Setelah haiku, tim mencoba prompt lain, termasuk limerik bertema antariksa dan permintaan data telemetri tentang kondisi sistem muatan satelit.

TPU (Tensor Processing Unit) adalah chip AI rancangan Google yang dipakai di pusat datanya untuk melatih dan menjalankan model. Menjalankan chip sekelas itu di orbit berbeda dengan memasang komputer kecil di satelit, karena konsumsi daya dan panasnya jauh lebih besar.

Satelit seukuran kulkas dengan empat TPU

Menurut liputan NPR saat peluncuran, satelit ini kira-kira seukuran lemari es, diluncurkan dengan roket SpaceX, dan dikembangkan bersama Planet, perusahaan satelit pencitraan Bumi. Di dalamnya ada empat TPU. Targetnya, satelit beroperasi selama satu tahun.

Ada satu detail yang menunjukkan betapa awalnya tahap ini. NPR melaporkan model Gemma hanya dijalankan 15 menit setiap kali karena keterbatasan pengelolaan panas. Prototipe ini juga masih berada di orbit standar dan memakai baterai. Satelit generasi berikutnya direncanakan berada di orbit sinkron matahari tanpa baterai.

Orbit sinkron matahari adalah lintasan yang membuat satelit melewati garis senja dan fajar Bumi, sehingga panelnya hampir selalu terkena sinar matahari. Dalam rancangan awal Project Suncatcher yang dipublikasikan pada 4 November 2025, Google menyebut panel surya di orbit yang tepat dapat hingga 8 kali lebih produktif dibanding di Bumi.

Tabel perbandingan pusat data di darat dan prototipe Project Suncatcher di orbit: sumber daya, pendinginan, perbaikan, dan koneksi

Rancangan pusat data di orbit

Rancangan November 2025 itu menggambarkan tujuan jangka panjangnya. Google memodelkan contoh gugus 81 satelit pada ketinggian rata-rata 650 km dengan radius gugus 1 km. Jarak antarsatelit terdekat berubah-ubah antara sekitar 100 dan 200 meter. Satelit-satelit itu dihubungkan laser agar dapat bekerja seperti satu pusat data.

Koneksi antarsatelit menjadi tantangan utama. Agar dapat bekerja seperti satu pusat data, satelit membutuhkan tautan berkapasitas sangat besar, dan itu sebabnya satelit diterbangkan dalam formasi yang sangat rapat. Google menargetkan tautan optik dengan kapasitas puluhan terabit per detik. Dalam uji skala meja di laboratorium, sepasang transceiver mencapai 800 Gbps per arah, atau total 1,6 Tbps.

Biaya peluncuran adalah syarat lain. Google memperkirakan harga peluncuran dapat turun di bawah 200 dolar AS per kilogram pada pertengahan 2030-an. Pada harga itu, menurut Google, biaya meluncurkan dan mengoperasikan pusat data di orbit dapat kira-kira setara dengan biaya energi pusat data di darat, dihitung per kilowatt per tahun.

Uji radiasi sebelum berangkat

Sebelum peluncuran, Google menguji TPU generasi Trillium (v6e) dengan berkas proton 67 MeV untuk meniru radiasi di orbit. Hasilnya, memori HBM mulai menunjukkan gangguan setelah dosis 2 krad(Si), hampir tiga kali dosis yang diperkirakan untuk misi lima tahun dengan pelindung, yaitu 750 rad(Si). Tidak ada kerusakan permanen akibat dosis pengion total hingga 15 krad(Si) pada satu chip.

Grafik batang hasil uji radiasi TPU Trillium: dosis misi lima tahun 750, gangguan HBM mulai 2.000, dan tanpa kerusakan permanen hingga 15.000 rad(Si)

Hasil laboratorium itu kini diuji di kondisi nyata. Menurut blog Google, langkah berikutnya adalah menguji kinerja TPU di bawah tekanan panas dan paparan radiasi di orbit. Tonggak setelahnya adalah dua satelit yang saling terhubung pada 2027.

Rencana itu sedikit bergeser dari pengumuman 2025. Saat itu Google menyebut dua satelit prototipe akan diluncurkan bersama Planet paling lambat awal 2027. Kenyataannya, satu satelit sudah mengorbit sejak Oktober 2026, sementara dua satelit berikutnya dijadwalkan tahun depan.

Persaingan dan keraguan para ahli

Google tidak sendirian. NPR mencatat perusahaan rintisan Starcloud meluncurkan wahana berisi chip Nvidia H100 pada November tahun lalu dan menjalankan model AI dari orbit. SpaceX juga menyatakan menargetkan satelit komputasi AI di orbit paling cepat pada 2028.

Dorongan di balik minat ini adalah kebutuhan listrik. Pusat data AI membutuhkan daya dalam jumlah besar, dan di banyak tempat pasokan listrik menjadi hambatan, seperti terlihat pada kasus rak GPU Amazon yang menunggu pasokan listrik. NPR juga mencatat Pichai memperkirakan belanja modal Google pada 2026 mencapai 180 hingga 190 miliar dolar AS, lebih dari enam kali lipat dibanding 2022.

Meski begitu, Beals sendiri tidak menjanjikan hasil cepat. Kepada NPR ia berkata, “I don’t see this being something where it’s cheaper to do this in the next five years.” Ia menyebut proyek ini sebagai moonshot, yaitu riset jangka panjang yang belum tentu berhasil, dan tidak memperkirakan pusat data di orbit akan segera menggantikan pusat data di darat.

Pakar lain menyoroti hambatan teknis. Brandon Lucia, profesor di Carnegie Mellon University, mengatakan kepada NPR bahwa komputasi yang lebih berat berarti lebih banyak panas yang harus dibuang di ruang tertutup. Di ruang hampa tidak ada udara atau air untuk pendinginan, sehingga panas hanya dapat dilepas lewat radiator yang berat. Menurut Lucia, biaya dan kerumitan perawatan di orbit dapat berlipat 10 hingga 100 kali dibanding di darat. NPR juga mencatat isu emisi dari peluncuran roket dan sisa satelit yang terbakar saat kembali ke atmosfer.

Apa artinya bagi pengguna cloud di Indonesia?

Untuk beberapa tahun ke depan, kapasitas AI yang dipakai organisasi di Indonesia tetap berasal dari pusat data di darat. Project Suncatcher layak diikuti, tetapi belum menjadi pertimbangan dalam perencanaan anggaran atau arsitektur. Ada beberapa pelajaran yang dapat dipakai sekarang.

Pertama, hitung kebutuhan daya dan biaya AI sejak awal. Upaya Google mencari energi sampai ke orbit menunjukkan bahwa listrik dan pendinginan menjadi batas nyata bagi komputasi AI. Saat memilih penyedia, tanyakan ketersediaan kapasitas GPU atau TPU di region terdekat, rencana penambahannya, dan biaya per jam. Tim layanan komputasi awan dapat membantu memetakan beban kerja mana yang perlu kapasitas besar dan mana yang cukup dengan instans biasa.

Kedua, pilih ukuran model sesuai tugasnya. Satelit ini menjalankan model terbuka Gemma, bukan model terbesar Google, karena daya dan panasnya terbatas. Prinsip yang sama berlaku di darat. Banyak tugas seperti klasifikasi dokumen, ringkasan laporan, atau menjawab pertanyaan internal dapat ditangani model kecil yang lebih hemat. Model besar disimpan untuk pekerjaan yang benar-benar membutuhkannya.

Ketiga, rancang sistem untuk koneksi yang tidak selalu ada. Satelit hanya dapat berkomunikasi saat melintas di atas stasiun bumi, sehingga perangkatnya harus bekerja mandiri di antara jendela komunikasi. Kondisi serupa dialami perangkat di kebun sawit, tambang, kapal, atau pos pemantauan di daerah dengan sinyal terbatas. AI yang berjalan langsung di perangkat, lalu menyinkronkan hasil saat koneksi tersedia, adalah pola yang dapat diterapkan lewat layanan IoT.

Keempat, siapkan rencana perawatan jarak jauh. Perangkat yang sulit dijangkau, baik di orbit maupun di lokasi terpencil, membutuhkan pemantauan kesehatan perangkat keras, pembaruan perangkat lunak dari jauh, dan cadangan bila satu komponen gagal.

Pertanyaan yang sering muncul

Apa itu Project Suncatcher?

Project Suncatcher adalah riset jangka panjang Google untuk menjalankan komputasi AI di satelit bertenaga surya yang dilengkapi chip TPU dan saling terhubung laser. Tujuannya meneliti apakah pusat data AI di orbit dapat menjadi pilihan di masa depan.

Apakah layanan AI Google sekarang berjalan dari luar angkasa?

Belum. Satelit ini masih prototipe untuk menguji ketahanan perangkat keras. Layanan Google seperti Gemini dan Google Cloud tetap berjalan di pusat data di darat, dan Beals tidak memperkirakan komputasi di orbit lebih murah dalam lima tahun ke depan.

Kapan tahap berikutnya dilakukan?

Google akan menguji TPU di bawah tekanan panas dan radiasi di orbit dalam beberapa bulan ke depan. Tonggak berikutnya adalah dua satelit yang saling terhubung pada 2027 untuk menguji jaringan antarsatelit.

Penutup

Haiku dari orbit adalah bukti teknis kecil, tetapi menunjukkan seberapa serius perusahaan teknologi mencari sumber energi baru untuk AI. Sambil menunggu hasil uji berikutnya, organisasi di Indonesia dapat mulai dari hal yang lebih dekat: menata beban kerja AI agar efisien di cloud yang ada. Bila Anda sedang merencanakan infrastruktur AI, tim Merakit siap membantu menyusun langkahnya.

Sumber

Ringkasan dalam satu gambar

Simpan atau bagikan ke tim Anda.

Unduh
Infografis ringkasan: Project Suncatcher: Respons AI Pertama dari TPU di Orbit

Topik

  • Komputasi Awan
  • Pusat Data
  • Chip AI
  • Teknologi Antariksa
  • Edge AI

Bagikan artikel ini

Diskusi dengan Tim Merakit

Punya tantangan serupa di organisasi Anda?

Ceritakan kebutuhan Anda. Tim kami bantu memetakan langkah dan solusi yang paling masuk akal, tanpa jargon.