Blog Kecerdasan Buatan
Skrining Retina AI AEYE-DS dan Pelajarannya bagi Puskesmas
Daftar isi· 7 bagian
AEYE-DS, sistem AI untuk skrining retinopati diabetik buatan AEYE Health, meraih penghargaan Prix Galien USA 2026 kategori Best Digital Health Solution. Sistem ini membaca satu foto retina per mata dan memberi hasil dalam waktu kurang dari satu menit tanpa dokter mata, saat Kementerian Kesehatan menyiapkan skrining retina di puskesmas.
Retinopati diabetik adalah kerusakan pembuluh darah di retina akibat gula darah yang lama tidak terkendali. Penyakit ini sering tidak bergejala pada tahap awal, padahal dapat berujung pada kebutaan. Karena itu, pemeriksaan retina secara berkala dianjurkan bagi penyandang diabetes, dan salah satu hambatannya adalah jumlah dokter spesialis mata yang terbatas.
AEYE-DS meraih penghargaan Prix Galien USA 2026
The Galien Foundation mengumumkan para pemenang Prix Galien USA 2026 dalam siaran pers tertanggal 30 Oktober 2026. Tahun ini adalah edisi ke-20 penghargaan tersebut, dengan delapan kategori yang mencakup obat, bioteknologi, teknologi medis, dan kesehatan digital. AEYE-DS (AEYE Diagnostic Screening) menang di kategori solusi kesehatan digital, sedangkan kategori teknologi medis dimenangi tes darah Shield dari Guardant Health.
Menurut laporan Eyewire News pada 4 November 2026, AEYE-DS terpilih dari 25 nomine di kategorinya. The Jerusalem Post menyebut AEYE Health sebagai perusahaan kesehatan digital Israel-Amerika yang dipimpin salah satu pendirinya, Zack Dvey-Aharon.
Penghargaan ini menarik perhatian karena AEYE-DS bekerja secara otonom. Artinya, sistem mengambil kesimpulan sendiri dari foto retina, dan hasilnya tidak perlu dibaca ulang oleh dokter sebelum disampaikan. Banyak alat AI medis lain berperan sebagai pembantu, yaitu memberi tanda pada gambar lalu dokter yang memutuskan.
Cara kerja skrining retina tanpa dokter mata
Pemeriksaan dengan AEYE-DS dimulai dari kamera fundus, yaitu kamera khusus untuk memotret bagian belakang bola mata. Petugas seperti perawat atau asisten medis memotret satu gambar retina untuk setiap mata. Menurut Eyewire, pemotretan dilakukan tanpa obat tetes pelebar pupil, sedangkan siaran pers AEYE tahun 2022 menyebut pelebaran pupil jarang diperlukan.
Foto itu kemudian dianalisis oleh perangkat lunak AI. Hasilnya keluar dalam waktu kurang dari satu menit dan menyatakan apakah pasien menunjukkan tanda retinopati diabetik yang perlu dirujuk ke dokter mata. Pasien dengan hasil positif diarahkan ke pemeriksaan lanjutan, sementara pasien dengan hasil negatif tidak perlu antre ke spesialis.

AEYE-DS memperoleh izin pemasaran 510(k) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) dalam dua tahap. Izin pertama keluar pada November 2022 untuk pemakaian dengan kamera meja Topcon NW-400. Izin kedua diumumkan Optomed pada 30 April 2024 untuk kamera genggam Optomed Aurora. Optomed menyebut kombinasi itu sebagai solusi skrining AI genggam pertama yang memperoleh izin FDA.
Kamera genggam penting bagi layanan di luar rumah sakit. Kamera meja umumnya dipasang tetap di satu ruang periksa, sedangkan kamera genggam dapat dibawa ke klinik kecil, apotek, atau kegiatan pemeriksaan keliling. Eyewire melaporkan AEYE-DS sudah dipakai di puluhan sistem layanan kesehatan dan rumah sakit di Amerika Serikat, dan terhubung dengan rekam medis elektronik untuk dokumentasi serta rujukan.
Angka uji klinis dan batasannya
AEYE-DS diuji dalam tiga uji klinis fase 3 yang prospektif dan terkontrol di beberapa pusat, dengan lebih dari 1.200 pasien. Menurut Eyewire, sensitivitasnya 92 hingga 93 persen dan spesifisitasnya 89 hingga 94 persen. Lebih dari 99 persen pasien menghasilkan foto yang dapat dianalisis.
Sensitivitas menunjukkan berapa banyak pasien yang benar-benar mengalami retinopati dan berhasil terdeteksi. Spesifisitas menunjukkan berapa banyak pasien sehat yang dinyatakan negatif dengan benar. Dengan sensitivitas sekitar 92 persen, kira-kira 8 dari 100 pasien yang sakit masih dapat lolos dari deteksi, sehingga skrining berkala tetap diperlukan.
Angka-angka tersebut berasal dari perusahaan dan dari uji yang menjadi dasar izin FDA di Amerika Serikat. Kinerja pada populasi, kamera, dan kondisi ruang periksa yang berbeda perlu dibuktikan lewat uji tersendiri. AEYE juga sedang mengembangkan AEYE-X, platform riset yang diklaim dapat membaca lebih dari 100 indikasi kesehatan dari foto retina, tetapi platform ini masih berstatus investigasi dan belum memperoleh izin.
Indonesia menyiapkan skrining retina di puskesmas
Berita AEYE-DS relevan bagi Indonesia karena beban diabetesnya besar. Menurut data International Diabetes Federation yang dikutip CNN Indonesia, jumlah penyandang diabetes di Indonesia sudah melampaui 20 juta orang dan diproyeksikan lebih dari 30 juta pada 2045. Laporan yang sama menyebut lebih dari 73 persen penyandang diabetes belum terdiagnosis.
Kementerian Kesehatan sedang menyiapkan integrasi layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi penyandang diabetes dengan skrining retina di puskesmas, seperti dilaporkan JawaPos pada Juli 2026. Langkah ini menjadi bagian dari Konsorsium Diabetic Retinopathy Initiatives (DRIVE) yang melibatkan Kemenkes, Universitas Gadjah Mada, dan Roche Indonesia.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan kepada wartawan bahwa pihaknya “sedang mengintegrasikan layanan agar pasien diabetes melitus (DM) juga bisa melakukan skrining retina di Puskesmas demi memperluas akses deteksi dini.”
Ketua Umum PERKENI, Prof. Em Yunir, menambahkan bahwa banyaknya penyandang diabetes yang belum terdiagnosis menjadi tantangan besar dalam pencegahan komplikasi. Skrining retina di layanan primer dapat membantu menemukan pasien lebih awal, selama hasilnya diikuti rujukan dan pengobatan.
Sumber yang kami rujuk tidak menyebut alat atau metode pembacaan foto yang akan dipakai di puskesmas, dan tidak ada pengumuman bahwa AEYE-DS akan masuk ke Indonesia. Pengalaman AEYE-DS di Amerika Serikat tetap berguna sebagai gambaran tentang kebutuhan teknis dan alur kerja skrining retina berbasis AI di layanan primer.
Apa artinya bagi puskesmas dan klinik?
Bagi puskesmas, klinik pratama, dan rumah sakit yang ingin memperluas skrining retina, pelajaran terbesarnya terletak pada alur kerja di sekitar alat AI. Beberapa hal berikut dapat dipertimbangkan sejak tahap perencanaan.
- Siapkan jalur rujukan lebih dulu. Skrining hanya berguna bila pasien dengan hasil positif segera mendapat jadwal ke dokter mata. Tentukan rumah sakit rujukan, cara membuat janji, dan cara memantau apakah pasien benar-benar datang.
- Pastikan izin dan bukti lokal. Alat kesehatan berbasis AI memerlukan izin edar dari Kemenkes sebelum dipakai di Indonesia. Mintalah data kinerja dari penyedia, terutama hasil uji pada pasien Asia dan pada kamera yang akan dipakai, lalu jalankan uji percontohan di beberapa lokasi.
- Latih petugas memotret retina. Kualitas foto menentukan hasil analisis. Petugas perlu tahu kapan foto harus diulang dan apa yang dilakukan bila sistem tidak dapat membaca gambar.
- Hubungkan hasil ke rekam medis. Hasil skrining sebaiknya tercatat di rekam medis elektronik dan dapat dibaca dokter yang menerima rujukan. Pengalaman integrasi dengan SATUSEHAT dan klaim JKN menunjukkan pentingnya format data yang seragam.
- Lindungi foto retina pasien. Foto retina termasuk data kesehatan yang dilindungi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi. Tentukan tempat penyimpanan, siapa yang berhak mengakses, dan berapa lama data disimpan.
Pengembangan sistem seperti ini melibatkan layanan kecerdasan buatan untuk model dan validasinya, serta aplikasi yang menghubungkan kamera, rekam medis, dan jadwal rujukan. Contoh lain penggunaan AI di layanan primer dapat dibaca pada ulasan stetoskop AI Eko CORE 300.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah AEYE-DS menggantikan dokter mata?
Tidak. AEYE-DS dirancang untuk skrining, yaitu memilah pasien yang perlu dirujuk. Diagnosis lengkap, penentuan stadium, dan pengobatan retinopati diabetik tetap dilakukan dokter spesialis mata.
Apakah AEYE-DS sudah dapat dipakai di Indonesia?
Belum ada pengumuman resmi tentang pemasaran AEYE-DS di Indonesia. Izin yang dimiliki saat ini adalah izin FDA untuk pasar Amerika Serikat, dan setiap alat kesehatan yang masuk ke Indonesia memerlukan izin edar dari Kemenkes.
Seberapa akurat skrining retina dengan AI?
Pada uji klinis AEYE-DS dengan lebih dari 1.200 pasien, sensitivitasnya 92 hingga 93 persen dan spesifisitasnya 89 hingga 94 persen. Angka itu berasal dari perusahaan, dan kinerja di populasi lain perlu diuji tersendiri.
Penutup
Penghargaan untuk AEYE-DS menunjukkan bahwa AI otonom mulai diterima untuk tugas medis yang sempit dan terukur, seperti membaca foto retina. Bagi Indonesia, momentum ini bertemu dengan rencana skrining retina di puskesmas. Keberhasilannya akan ditentukan oleh izin, validasi lokal, dan alur rujukan yang berjalan. Jika organisasi Anda sedang merancang layanan kesehatan digital, tim Merakit siap membantu lewat solusi layanan kesehatan dari perencanaan hingga integrasi data.
Sumber
- The Galien Foundation (via MedDeviceGuide): Pengumuman pemenang Prix Galien USA 2026 (30 Oktober 2026)
- Eyewire News: AEYE Health Wins 2026 Prix Galien USA Award (4 November 2026)
- The Jerusalem Post: AEYE Health dan penghargaan Prix Galien USA (6 November 2026)
- PR Newswire: AEYE Health receives FDA clearance for AI-based autonomous screening for referable diabetic retinopathy (15 November 2022)
- Optomed: Optomed Aurora with AEYE has received FDA clearance in the US (30 April 2024)
- JawaPos: Cegah Retinopati Diabetik, Kemenkes Siapkan CKG Diabetes Terintegrasi dengan Skrining Retina (21 Juli 2026)
- CNN Indonesia: 73 Persen Penderita Diabetes Tak Terdiagnosis, Waspadai Risikonya (21 Juli 2026)