Blog Konektivitas

Internet Rumah 100 Mbps Rp140 Ribu, Arti bagi Belajar Daring

Ditulis oleh Alfina Putri

7 menit baca

Internet Rumah 100 Mbps Rp140 Ribu, Arti bagi Belajar Daring
Daftar isi· 7 bagian
  1. 1Target 100 Mbps dan harga sekitar Rp140 ribu
  2. 2Posisi internet tetap Indonesia saat ini
  3. 3Dua jalur menuju internet rumah yang terjangkau
  4. 4Apa artinya bagi sekolah dan penyedia belajar daring?
  5. 5Pertanyaan yang sering muncul
  6. 6Penutup
  7. 7Sumber

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan internet rumah 100 Mbps dengan biaya sekitar Rp140 ribu per bulan, atau di bawah Rp200 ribu. Target ini disampaikan Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria pada akhir Oktober 2026 dan bertumpu pada perluasan jaringan serat optik sampai ke rumah tangga. Jadwal dan operator pelaksananya belum diumumkan.

Bagi keluarga yang anaknya belajar dari rumah, angka ini menarik karena satu sambungan rumah dapat dipakai bersama oleh seluruh anggota keluarga. Bagi sekolah dan penyedia layanan belajar daring, target ini menjadi alasan untuk menilai ulang seberapa siap aplikasi mereka menghadapi kondisi jaringan siswa yang sangat beragam.

Target 100 Mbps dan harga sekitar Rp140 ribu

Menurut laporan JawaPos pada 31 Oktober 2026, Nezar menyampaikan target itu di kantor Komdigi, Jakarta Pusat. Ia menilai biaya internet dapat ditekan dengan memperluas layanan internet tetap (fixed broadband), yaitu sambungan yang dipasang ke rumah atau kantor, berbeda dengan paket data di ponsel.

“Dengan kecepatan 100 Mbps, masyarakat bisa membayar sekitar Rp140 ribu atau di bawah Rp200 ribu,” kata Nezar, seperti dikutip Katadata.

Pemerintah juga menekankan bahwa jaringan serat optik perlu masuk ke kawasan permukiman, tidak berhenti di kawasan bisnis dan pusat kota. Alasannya, sambungan rumah dapat dipakai bersama untuk sekolah, bekerja, usaha, dan mengakses layanan publik.

Pada kesempatan yang sama, Nezar menyebut adopsi 5G di Indonesia masih di bawah 10 persen. Pemerintah menargetkan angka itu naik ke kisaran 30 hingga 40 persen dalam tiga sampai lima tahun, dengan penguatan infrastruktur sebagai langkah pertama.

Bagian dari rencana hingga 2029

Target harga ini melengkapi sasaran yang sudah ada dalam RPJMN 2025–2029. Pada Oktober 2025, Menteri Komdigi Meutya Hafid menyebut baru 21 persen rumah tangga yang memiliki akses internet tetap. Sasaran 2029 adalah penetrasi internet tetap rumah tangga 50 persen, jaringan serat optik hingga 90 persen kecamatan, dan kecepatan layanan 100 Mbps, seperti dilaporkan Bisnis.com.

Dalam matriks pendanaan yang dikutip Bisnis.com pada Januari 2026, rata-rata kecepatan internet tetap ditargetkan naik dari 37 Mbps pada 2025 menjadi 45 Mbps pada 2026, lalu 100 Mbps pada 2029.

Posisi internet tetap Indonesia saat ini

Data Ookla Speedtest Global Index untuk Agustus 2026 mencatat median kecepatan unduh internet tetap Indonesia sebesar 51,40 Mbps, dengan kecepatan unggah 36,23 Mbps. Indonesia berada di peringkat 113 dunia dan urutan kesembilan dari sepuluh negara Asia Tenggara, menurut rangkuman Bisnis.com.

Grafik batang median kecepatan unduh internet tetap Agustus 2026: Singapura 462,50 Mbps, Vietnam 301,48, Malaysia 179,32, Filipina 114,34, dan Indonesia 51,40 Mbps

Pada bulan yang sama, internet seluler Indonesia tercatat lebih cepat, dengan median unduh 66,34 Mbps dan peringkat 70 dunia. Median internet tetap Indonesia juga masih sekitar separuh dari sasaran 100 Mbps pada 2029.

Dari sisi jumlah pengguna, survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2026 mencatat 235,26 juta pengguna internet, atau 81,7 persen dari populasi, menurut Investortrust. Kesenjangan antarwilayah masih terlihat. Penetrasi di Pulau Jawa mencapai 85,95 persen, sementara Maluku dan Papua berada di 69,74 persen.

Angka penetrasi internet tetap juga berbeda menurut cara mengukurnya. Komdigi memakai ukuran rumah tangga (sekitar 21 persen), sedangkan survei APJII 2025 mencatat 28,43 persen warga memakai internet tetap di rumah, seperti dikutip detikInet. Keduanya sama-sama menunjukkan bahwa sebagian besar warga masih bergantung pada kuota seluler.

Dua jalur menuju internet rumah yang terjangkau

Pemerintah menempuh dua jalur yang berjalan bersamaan. Jalur pertama adalah serat optik ke rumah, yang menjadi dasar target Rp140 ribu. Jalur kedua adalah Internet Rakyat, layanan internet tetap tanpa kabel yang sudah berjalan.

Menurut infografik Katadata pada 14 Oktober 2026, Internet Rakyat memakai teknologi 5G Fixed Wireless Access (FWA) pada frekuensi 1,4 GHz. Pengguna cukup memasang router yang menerima sinyal radio, sehingga tidak perlu menarik kabel ke rumah. Layanan ini menawarkan kecepatan hingga 100 Mbps dengan tarif Rp100.000 per bulan.

Tabel perbandingan serat optik ke rumah dan Internet Rakyat: media, kecepatan, tarif per bulan, dan status layanan

Per 26 Mei 2026, Internet Rakyat didukung lebih dari 550 site aktif dan 3.189 unit radio di lebih dari 82 kota dan kabupaten di Pulau Jawa, Maluku, dan Papua. Komdigi juga menyiapkan kebijakan spektrum 1,4 GHz untuk layanan internet tetap. Pemerintah menargetkan rasio harga layanan internet terhadap pendapatan per kapita turun dari sekitar 4,8 persen pada 2026 menjadi 1,4 persen pada 2029.

Kedua jalur punya kelebihan masing-masing. Serat optik umumnya lebih stabil untuk kebutuhan besar, tetapi pemasangannya butuh waktu dan biaya. Jaringan radio seperti FWA lebih cepat dipasang, tetapi kualitasnya bergantung pada jarak ke pemancar dan jumlah pengguna di satu area.

Rincian yang belum diumumkan

Target Rp140 ribu belum berupa produk yang dapat dibeli hari ini. CNA Indonesia mencatat pemerintah belum menjelaskan kapan harga itu tercapai, operator mana yang akan menyediakannya, dan bagaimana harga akan diatur. Skema pendanaan perluasan serat optik dan insentif bagi operator juga belum dirinci.

Karena itu, keputusan yang bergantung pada harga ini, misalnya rencana anggaran langganan sekolah atau program bantuan internet siswa, sebaiknya menunggu aturan pelaksananya terbit.

Apa artinya bagi sekolah dan penyedia belajar daring?

Kalau target ini tercapai, lebih banyak rumah akan memiliki koneksi yang cukup untuk video pembelajaran, kelas langsung, dan ujian berbasis komputer. Namun, selama beberapa tahun ke depan, siswa di satu kelas akan tetap memiliki kondisi jaringan yang berbeda-beda. Sebagian memakai internet tetap, sebagian bergantung pada kuota seluler, dan sebagian lagi belum memiliki akses yang layak di rumah.

Empat langkah bagi sekolah dan penyedia belajar daring: petakan akses siswa, ukur beban aplikasi, tahan koneksi putus, dan uji di jaringan lambat

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan sekarang.

  1. Petakan akses siswa. Tanyakan lewat survei sederhana apakah siswa memakai internet tetap, kuota seluler, atau belum memiliki akses di rumah. Data ini membantu sekolah menentukan tugas mana yang wajar dikerjakan dari rumah.
  2. Ukur beban aplikasi. Hitung berapa data yang terpakai untuk satu sesi belajar, termasuk video dan unggahan tugas. Sediakan pilihan kualitas video yang lebih rendah dan materi yang dapat diunduh lebih dulu.
  3. Siapkan aplikasi untuk koneksi yang putus. Pada ujian berbasis komputer, jawaban sebaiknya tersimpan di perangkat lalu dikirim ulang begitu koneksi kembali. Fitur semacam ini penting bagi platform ujian online seperti Merakit Exam.
  4. Uji di jaringan lambat. Coba aplikasi dengan kecepatan yang mendekati kondisi siswa di rumah, selain di jaringan kantor yang cepat.

Untuk penyedia layanan, sekolah, atau dinas yang sedang merancang platform belajar, pengalaman siswa di jaringan lambat perlu diperlakukan sebagai kebutuhan utama sejak tahap desain. Kebutuhan ini juga menjadi perhatian dalam solusi teknologi pendidikan yang dikerjakan Merakit.

Perangkat di kelas juga perlu diperhatikan. Sekolah yang menerima papan interaktif digital, misalnya, membutuhkan koneksi sekolah yang stabil agar konten daring dapat dipakai saat pelajaran berlangsung.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah internet rumah 100 Mbps seharga Rp140 ribu sudah tersedia?

Belum sebagai program resmi. Angka Rp140 ribu adalah target pemerintah, dan jadwal serta operator pelaksananya belum diumumkan. Layanan yang sudah berjalan dengan harga terendah adalah Internet Rakyat, dengan kecepatan hingga 100 Mbps dan tarif Rp100.000 per bulan di wilayah yang sudah terjangkau.

Apa beda internet tetap dan Internet Rakyat?

Internet tetap biasanya memakai kabel, misalnya serat optik, yang ditarik sampai ke rumah. Internet Rakyat juga tergolong layanan internet tetap, tetapi sinyalnya dikirim lewat radio 5G pada frekuensi 1,4 GHz ke router di rumah, sehingga tidak memerlukan kabel.

Berapa kecepatan internet tetap Indonesia saat ini?

Menurut Ookla Speedtest Global Index, median kecepatan unduh internet tetap Indonesia pada Agustus 2026 adalah 51,40 Mbps. Pemerintah menargetkan rata-rata kecepatan internet tetap 45 Mbps pada 2026 dan 100 Mbps pada 2029.

Penutup

Target 100 Mbps seharga sekitar Rp140 ribu memberi arah yang jelas bagi pembangunan internet rumah, meski rinciannya masih ditunggu. Sambil menunggu aturan pelaksananya, sekolah dan penyedia belajar daring dapat mulai menyiapkan layanan yang tetap nyaman dipakai di jaringan yang beragam. Jika tim Anda sedang merancang platform belajar atau ujian yang tahan terhadap koneksi tidak stabil, tim Merakit siap berdiskusi.

Sumber

Ringkasan dalam satu gambar

Simpan atau bagikan ke tim Anda.

Unduh
Infografis ringkasan: Internet Rumah 100 Mbps Rp140 Ribu, Arti bagi Belajar Daring

Topik

  • Konektivitas
  • Internet Rumah
  • Pendidikan Digital
  • Regulasi
  • Komdigi

Bagikan artikel ini

Diskusi dengan Tim Merakit

Punya tantangan serupa di organisasi Anda?

Ceritakan kebutuhan Anda. Tim kami bantu memetakan langkah dan solusi yang paling masuk akal, tanpa jargon.