Blog Pusat Data

SWRO Kabil Mulai Dibangun, Air Laut untuk Pusat Data Batam

Ditulis oleh Alfina Putri

8 menit baca

SWRO Kabil Mulai Dibangun, Air Laut untuk Pusat Data Batam
Daftar isi· 7 bagian
  1. 1Proyek SWRO Kabil dan target kapasitasnya
  2. 2Cara SWRO mengubah air laut menjadi air bersih
  3. 3Pasokan air mandiri untuk pusat data Batam
  4. 4Apa artinya bagi pengguna pusat data?
  5. 5Pertanyaan yang sering muncul
  6. 6Penutup
  7. 7Sumber

Pembangunan fasilitas pengolahan air laut Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) di kawasan industri Kabil, Batam, resmi dimulai pada 5 November 2026. SWRO Kabil tahap pertama berkapasitas 300 liter per detik dan disiapkan untuk memasok air bersih ke pusat data di Kabil dan Nongsa, dengan nilai investasi Rp600 miliar.

Proyek ini menarik karena menyentuh sisi pusat data yang jarang dibicarakan. Diskusi tentang pusat data biasanya berkisar pada listrik, kabel bawah laut, dan kapasitas server. Di Batam, air bersih kini ikut menentukan apakah sebuah pusat data dapat beroperasi penuh, karena Badan Pengusahaan (BP) Batam mewajibkan pengembang pusat data menyiapkan pasokan air sendiri.

Proyek SWRO Kabil dan target kapasitasnya

Peletakan batu pertama dilakukan bersama penandatanganan kontrak pembangunan, dihadiri BP Batam, pengelola kawasan Kabil PT Kabil Citranusa, dan Citramas Group. Menurut ANTARA, sistem SWRO dikerjakan De Nora Water PTE LTD, pekerjaan sipil serta instalasi mekanikal dan elektrikal dikerjakan PT Mitra Kharisma Konstruksi Prima, dan bangunan pengambilan air laut (intake) dikerjakan kontraktor lain.

Sumber berbeda tipis soal jadwal. Kepala BP Batam Amsakar Achmad menyebut tahap pertama ditargetkan selesai pada Oktober 2027, sedangkan CEO Citramas Group Michael Wiluan menargetkan fasilitas itu beroperasi pada November 2027, seperti dilaporkan Ulasan.co dan Batamtv. Kedua media itu juga menyebut nilai investasi tahap pertama sebesar 32,8 juta dolar AS atau sekitar Rp600 miliar.

Direktur Utama PT Kabil Citranusa Peters Vincen menjelaskan bahwa lokasi SWRO dipilih karena dekat dengan laut, sekitar satu kilometer dari kawasan pembangunan. Air hasil olahan akan dialirkan lewat pipa transmisi sepanjang 12 kilometer dari Kabil ke Nongsa. Kapasitas 300 liter per detik baru tahap awal dan akan ditambah bertahap hingga 700 liter per detik pada 2030.

Sebelum SWRO, kawasan Kabil dan Nongsa Digital Park mengandalkan embung (kolam penampung air hujan) di Kabil. ANTARA mencatat kapasitasnya 60 liter per detik dan direncanakan naik menjadi 120 liter per detik pada triwulan pertama 2027. Citramas memberi angka yang sedikit berbeda: produksi saat ini 5.200 meter kubik per hari (60,2 liter per detik) dan rencana 10.000 meter kubik per hari (sekitar 115,74 liter per detik) pada awal 2027, lewat embung baru di Nongsa dan daur ulang air limbah industri.

Grafik batang kapasitas air bersih kawasan Kabil dan Nongsa: embung saat ini 60 liter per detik, target embung 2027 sebesar 120, SWRO tahap pertama 300, dan rencana SWRO 2030 sebesar 700 liter per detik

Cara SWRO mengubah air laut menjadi air bersih

Reverse osmosis adalah proses menekan air melewati membran berpori sangat halus. Molekul air dapat lewat, sedangkan garam dan zat terlarut lain tertahan. Karena air laut harus didorong dengan tekanan tinggi, proses ini membutuhkan listrik yang cukup besar dan membran yang dirawat dengan baik.

Anggota/Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam Ariastuty Sirait, dalam penjelasan yang dikutip Ulasan.co, merinci lima tahap SWRO. Air laut diambil lewat pipa intake yang dilengkapi penyaring. Air itu lalu melalui pra-pengolahan berupa filtrasi, dissolved air flotation (pengapungan kotoran dengan gelembung udara halus), dan anti-scalant untuk mencegah kerak. Tahap ketiga adalah pemisahan garam dengan membran bertekanan tinggi, yang menurut Ariastuty menyedot investasi paling besar. Setelah itu, air disesuaikan kandungan mineralnya, didisinfeksi, disimpan, dan didistribusikan.

Empat langkah SWRO: pengambilan air laut dengan penyaring, pra-pengolahan, pemisahan garam dengan membran bertekanan tinggi, lalu penyesuaian mineral dan distribusi ke pusat data

Di Kabil, Peters Vincen menyebut air yang selesai diolah akan ditampung dalam tangki sebelum disalurkan ke pusat data di Kabil dan Nongsa. Ariastuty memperkirakan satu fasilitas SWRO berkapasitas sekitar 300 liter per detik membutuhkan biaya Rp400 miliar hingga Rp500 miliar dengan waktu pembangunan satu sampai tiga tahun. Angka itu adalah perkiraan umum BP Batam, sedangkan nilai kontrak tahap pertama Kabil disebut Rp600 miliar.

SWRO juga menghasilkan sisa berupa air pekat bergaram. Peters mengatakan limbah tersebut mendapat penanganan khusus sebelum dibuang kembali ke laut, dan mekanismenya sudah dibahas dengan Dinas Lingkungan Hidup. Deputi Bidang Kebijakan Strategis dan Perizinan BP Batam Sudirman Saad menegaskan bahwa proyek ini wajib memenuhi seluruh perizinan, mulai dari persetujuan pemanfaatan ruang laut (PKKPRL), analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), hingga Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), menurut laporan ANTARA.

Pasokan air mandiri untuk pusat data Batam

Banyak pusat data memakai air untuk sistem pendinginan, misalnya menara pendingin yang membuang panas dari ruang server lewat penguapan. Kebutuhannya bergantung pada kapasitas dan teknologi yang dipakai. “Sebagian fasilitas membutuhkan sekitar 10 liter per detik (LPS), sementara pusat data berkapasitas lebih besar mungkin memerlukan hingga 100 LPS,” kata Peters Vincen kepada ANTARA. Ia menambahkan bahwa sebagian pusat data terbaru dapat mengurangi pemakaian air, bahkan tidak memakainya sama sekali, dalam sistem pendinginan.

Kebijakan pasokan mandiri lahir dari kondisi air baku Batam yang terbatas. Pada pertengahan Oktober 2026, Gokepri melaporkan penurunan tinggi muka air Waduk Nongsa di tengah musim kemarau El Niño yang mengganggu pasokan ke permukiman. BP Batam lalu memasang pipa interkoneksi dari jalur Waduk Duriangkang dan menambah pengiriman air dengan mobil tangki. Dalam laporan yang sama, BP Batam mewajibkan pengembang pusat data membangun dan mengoperasikan SWRO sendiri ketika fasilitasnya beroperasi penuh. Selama tahap konstruksi, dukungan air dari Duriangkang bersifat sementara dan sangat terbatas.

Skala industrinya masih berkembang. Ariastuty menyebut sepuluh perusahaan pusat data terdaftar di Batam: enam di Nongsa Digital Park, dua di kawasan Nongsa di luar Nongsa Digital Park, dan dua di Kabil Industrial Estate, dengan tahap pembangunan yang berbeda-beda. Peters memperkirakan kapasitas operasional pusat data di kawasan itu saat ini sekitar 20 hingga 30 megawatt, dengan target pengembangan hingga satu gigawatt pada 2030.

Pertanyaan soal lokasi juga sedang dibahas di tingkat nasional. Rancangan peraturan presiden tentang pusat data mendorong pembangunan keluar dari Batam dan Jawa dengan memperhatikan pasokan listrik dan air, seperti dibahas dalam artikel tentang rencana Danantara untuk chip dan perangkat pusat data lokal.

Apa artinya bagi pengguna pusat data?

Sebagian besar organisasi tidak membangun pusat data sendiri. Bank, toko daring, rumah sakit, dan instansi menyewa ruang server (colocation) atau memakai cloud yang servernya berada di pusat data seperti di Batam. Kesiapan utilitas di lokasi itu ikut menentukan keandalan layanan mereka. Beberapa hal yang dapat dipertimbangkan:

  1. Tanyakan sumber air dan teknologi pendinginan penyedia. Saat memilih colocation atau region cloud, mintalah penjelasan tentang sumber air, kapasitas cadangan saat kemarau, dan apakah pendinginannya bergantung pada air. Pusat data dengan pendinginan berbasis udara atau sistem tertutup lebih tahan terhadap gangguan pasokan air.
  2. Masukkan risiko utilitas ke rencana pemulihan bencana. Gangguan air atau listrik di satu kawasan dapat memengaruhi beberapa pusat data sekaligus. Replikasi data ke lokasi lain, seperti yang dibahas dalam artikel pusat data JKT2A dan APN Connect, membantu layanan tetap berjalan.
  3. Sesuaikan jadwal migrasi dengan kesiapan kawasan. SWRO Kabil tahap pertama baru ditargetkan rampung pada akhir 2027. Organisasi yang berencana memindahkan beban kerja ke pusat data baru di Batam sebaiknya memeriksa status operasional fasilitas tersebut, termasuk pasokan airnya, sebelum menandatangani kontrak jangka panjang.
  4. Perlakukan utilitas sebagai data yang dipantau. Pengelola kawasan industri dan pabrik dapat memasang sensor debit, tekanan, dan level tangki yang terhubung ke sistem pemantauan, sehingga gangguan pasokan terdeteksi sebelum mengganggu operasi. Pendekatan ini termasuk dalam cakupan otomasi industri dan pemantauan utilitas.

Bagi tim TI, keputusan arsitektur juga berperan. Beban kerja yang dirancang dapat berpindah antarzona atau antarregion lebih mudah dialihkan ketika satu lokasi bermasalah. Strategi ini dapat direncanakan bersama penyedia layanan komputasi awan yang memahami kebutuhan kepatuhan dan lokasi data di Indonesia.

Pertanyaan yang sering muncul

Apa itu SWRO dan mengapa dipakai di Batam?

SWRO (Sea Water Reverse Osmosis) adalah teknologi yang mengubah air laut menjadi air tawar dengan menekannya melewati membran yang menahan garam. Ketersediaan air baku dari waduk di Batam tertekan saat curah hujan rendah, sehingga BP Batam menilai SWRO sebagai opsi terbaik saat ini untuk kebutuhan air industri besar seperti pusat data.

Kapan SWRO Kabil mulai beroperasi?

Kepala BP Batam menyebut tahap pertama berkapasitas 300 liter per detik ditargetkan selesai pada Oktober 2027, sedangkan Citramas Group menargetkan operasi pada November 2027. Kapasitasnya direncanakan naik bertahap hingga 700 liter per detik pada 2030.

Bagaimana limbah air garam dari SWRO ditangani?

Menurut PT Kabil Citranusa, air pekat bergaram sisa pengolahan akan mendapat penanganan khusus sebelum dibuang kembali ke laut, dan mekanismenya sudah dibahas dengan Dinas Lingkungan Hidup. Proyek ini juga wajib mengantongi izin pemanfaatan ruang laut dan Amdal.

Penutup

SWRO Kabil menunjukkan bahwa kesiapan pusat data ditentukan oleh hal yang lebih mendasar daripada rak server, yaitu air dan listrik yang andal. Bagi organisasi yang menaruh sistemnya di pusat data, pertanyaan tentang utilitas layak masuk daftar periksa saat memilih penyedia. Tim Merakit siap membantu Anda merencanakan infrastruktur cloud dan strategi pemulihan yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Sumber

Ringkasan dalam satu gambar

Simpan atau bagikan ke tim Anda.

Unduh
Infografis ringkasan: SWRO Kabil Mulai Dibangun, Air Laut untuk Pusat Data Batam

Topik

  • Pusat Data
  • Desalinasi Air Laut
  • Kawasan Industri
  • Komputasi Awan
  • Batam

Bagikan artikel ini

Diskusi dengan Tim Merakit

Punya tantangan serupa di organisasi Anda?

Ceritakan kebutuhan Anda. Tim kami bantu memetakan langkah dan solusi yang paling masuk akal, tanpa jargon.